Minggu, 21 Februari 2010

KHULFAUR RASYIDIN : ALI BIN ABI THALIB

ALI BIN ABI THALIB (656-661)



Profil SingkatAli dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600. Muslim Syi'ah per-caya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka'bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Mekkah.
Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW terkesan tidak suka, karena itu mulai memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi(derajat di sisi Allah).
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.
Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.
Dalam biografi asing (Barat), hubungan Ali kepada Nabi Muhammad SAW dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) kepada Yesus (Nabi Isa). Dalam riwayat-riwayat Syi'ah dan sebagian riwayat Sunni, hubungan tersebut dilukiskan seperti Nabi Harun kepada Nabi Musa.
Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.
Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani (spirituality dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka menyebut istilah 'Ihsan') atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada Murid-murid atau Sahabat-sahabat yang lain. Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.
Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar. Setelah itu Ali tetap tinggal di Mekah untuk menjaga sejumlah barang berharga yang dititipkan kepada Nabi, yang kemudian dikembalikan kepada pemiliknya. Setelah semuanya selesai, baru ia berangkat ke Madinah.
Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Upacara pernikahan dilangsungkan sederhana. Emas kawinya adalah sehelai kain, barang-barang tembilkar dan batu gerinda. Dari perkawinan ini lahirlah lima anak yaitu : tiga anak lelaki yaitu :Hasan, Husain, Muhisn dan 2 anak perempuan yaitu : Zainab dan Ummi Kalsum.
Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.
Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
Dalam Perang Khaibar, di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda: "Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya".
Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.
Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah.
Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi'ah berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Bait dan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai'at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah peng-ganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali membai'at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat
Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.
Akan tetapi pada masa Khalifah Abu bakar dan Umar, Ali menjadi penasehat utama. Ia menyelesaikan permasalahan negara yang rumit dan semua keputusan penting Khalifah diambil setelah berkonsultasi dengan Ali.
Menjadi khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai'at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.
Selanjutnya tidak seorang pun dari para pejuang Badar kecuali telah mendatangi Ali seraya berkata, "Kami tidak melihat adanya seorang yang lebih berhak menjabat sebagai khalifah selain dirimu. Ulurkanlah tanganmu, kami baiat." Mereka lalu membaiatnya.
Belum selesai pengangkatan dan pembaiatan Ali sebagai khalifah, Marwan dan anaknya telah melarikan diri.
Tidak diragukan lagi bahwa pembunuhan Utsman dilakukan oleh kaum pemberontak yang didalangi Yahudi. Maka para pembunuh itu harus dihukum berdasarkan kepada hukum qishash yang syar'i. Seluruh kaum Muslimin terutama Ali Rodhiyallahu 'anhu berusaha melakukan qishash terhadap para pembunuh Utsman. Hanya saja Ali meminta kepada mereka yang terburu-buru agar menunggu sebentar sampai segala urusan beres atau sampai ia dapat mewujudkan apa yang dinilainya sebagai penda­huluan yang bersifat dharuri, menjamin terlaksananya qishash, dan menjauhkan sebab-sebab timbulnya fitnah.Singkat peristiwa,Thalhah dan Zubair bersama sejumlah sahabat masing-masing berpendapat agar Ali segera menangkap para pem­bunuh dan melaksanakan qishash terhadap mereka. Guna menjamin keselamatan pelaksanaannya dan menghindarkan fitnah, mereka menawarkan kepada Ali untuk melakukan tugas tersebut dan meminta agar Ali mendatangkan pasukan dari Basrah dan Kufah untuk men­dukungnya. Akan tetapi, Ali meminta agar mereka menunggu sampai ia menyusun program yang baik untuk melaksanakan hal tersebut.Hal yang terjadi setelah itu ialah bahwa masing-masing dari kedua belah pihak melaksanakan ijtihadnya dalam menggunakan cara yang terbaik untuk menuntut darah Usman. Akhirnya berkumpullah orang-orang yang berpendapat harus segera melaksanakan qishash, di Basrah. Di antara mereka terdapat Aisyah Ummul Mu'minin, Thalhah, Zubair, dan sejumlah besar sahabat. Tujuan mereka tidak lain untuk mengingatkan para penduduk Basrah akan perlunya kerja sama dalam mengepung para pembunuh Utsman dan menuntut darahnya dari mereka.Saat itu, pasukan dari Ali pun berangkat ke sana guna melakukan ishlah dan menyatukan kalimat. Karena itu, semua pihak berangkat ke tempat tersebut dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mempunyai maksud untuk memulai peperangan atau menyulut api fitnah.
Al-Qa'qa bin Amr sebagai utusan dari pihak Ali Radhiyallahu 'anhu menemui Aisyah Radhiyallahu 'anha seraya bertanya, "Wahai ibunda, apakah gerangan yang mendorong kedatangan ibunda ke negeri ini?" Aisyah menjawab, "Ishlah di antara manusia." Al-Qa'qa kemudian menemui Thalhah dan Zubair, dan menyampaikan pertanyaan yang sama. Keduanya menjawab, "Kami juga demikian. Kami tidak datang ke tempat ini kecuali untuk melakukan ishlah di antara manusia." Semua pihak kemudian berbicara dan berunding yang akhirnya sepakat untuk menyerahkan urusan ini kepada Ali dengan syarat supaya ia tidak segan-­segan mengerahkan segenap upaya untuk menegakkan hukum Allah atas para pembunuh Utsman jika ia telah dapat melakukannya.
Akhirnya, al-Qa'qa kembali kepada Ali menyampaikan kese­pakatan yang telah dicapai dan keinginan orang-orang untuk berdamai. Ali lalu berpidato di hadapan khalayak ramai seraya memuji Allah atas nikmat perdamaian dan kesepakatan yang telah tercapai. Selan­jutnya, Ali mengumumkan bahwa besok ia akan segera bertolak.
Akan tetapi, Tidak lama setelah Ali mengumumkan terjadinya perda-maian, kesepakatan, dan rencana esok hari, malam itu pula para gembong fitnah pun mengadakan pertemuan. Di antara mereka terdapat al-­Asytar an-Nakha'i, Syuraih bin Aufa, Abdullah bin Saba', Salim bin Tsa'labah, dan Ghulam ibnul Haitsam. Para gembong fitnah ini membahas bahaya perdamaian dan kesepakatan tersebut bagi mereka. Kesepakatan para sahabat itu merupakan bahaya dan ancaman bagi mereka. Salah seorang di antara mereka mengusulkan, "Jika demikian halnya, kita segera bunuh saja Ali seperti halnya Utsman."
Akan tetapi, Abdullah bin Saba' mengecam dan menentang pendapat ini seraya berkata kepada mereka, "Sesungguhnya, keber­hasilan kalian terletak pada pergaulan kalian dengan masyarakat. Jika kalian bertemu dengan orang-orang, kobarkanlah peperangan dan pertempuran di antara mereka. Janganlah kalian biarkan mereka bersatu. Orang yang ada di sekitar kalian akan enggan melakukan pertempuran demi membela dirinya .... " Setelah menyepakati konspirasi ini, mereka pun berpencar.
Pada hari kedua, Ali berangkat kemudian diikuti oleh Thalhah dan Zubair. Sementara itu, perdamaian dan kesepakatan telah di­kukuhkan. Orang-orang pun menikmati malam terbaiknya kecuali para pembunuh Utsman yang gelisah di malam itu.
Sementara itu, Abdullah bin Saba' dan kawan-kawan telah sepa­kat untuk mengobarkan peperangan di ujung malam dan menjebak orang-orang ke dalam peperangan tersebut, apa pun yang terjadi.
Orang-orang yang melakukan konspirasi jahat ini bergerak sebelum fajar. Jumlah mereka hampir dua ribu orang. Masing-masing kelompok bergerak mendatangi kerabat mereka lalu melakukan serbuan mendadak dengan pedang-pedang mereka. Setelah itu, masing-­masing kelompok bangkit untuk membela kaumnya. Akhirnya, orang-­orang bangun dari tidur mereka dengan membawa pedang seraya berkata, "Para penduduk Kufah menyerang kita pada malam hari dan berkhianat kepada kita." Mereka mengira bahwa tindakan tersebut adalah rencana busuk yang dilakukan Ali Rodhiyallahu 'anhu. Setelah mendengar berita ini, Ali berkata, "Apa yang terjadi pada masyarakat?" Orang-orang yang berada di sekitarnya berteriak, "Penduduk Bashrah menyerang kami di malam hari dan berkhianat terhadap kami." Masing-­masing kelompok kemudian mengambil pedangnya, memakai baju perang, dan menunggang kuda tanpa mengetahui hakikat yang sebenarnya. Karena itu, wajar bila kemudian secara spontan terjadi peperangan dan pertempuran.
Orang-orang yang berhimpun di sekitar Ali berjumlah 20.000 orang, sedangkan orang-orang yang bergabung dengan Aisyah sekitar 30.000 orang. Sementara itu, para pengikut Abdullah bin Saba' yang terabaikan ­tak henti-hentinya melakukan pembunuhan sehingga para penyeru dari pihak Ali yang menyerukan, "Berhentilah, berhentilah," tidak mendapatkan sambutan sama sekali.
Di tengah sengit dan berkecamuknya pertempuran itu, bila wajah-wajah yang saling mengenal di bawah naungan keimanan itu berhadapan, mereka sa-ling menahan diri dan menghindar, tak peduli dari kelompok mana pun mereka.
Ketika Ali dan kawan-kawannya mendekati Thalhah dan Zubair, dan bari-san pun telah saling mendekat, keluarlah Ali seraya menunggang baghal Ra-sulullah kemudian berseru, 'Hai Thalhah, datanglah kesini, dan hai Zubair datanglah kemari”
Mendengar itu, keduanya pun mendekatinya. Kemudian Ali berteiak kepada Talhah tentang kebesaran dak keperwiraan, “Wahai Thalhah…! Kenapa kamu sembunyikan istrimu dirumah dan kamu bawa istri Rasulullah SAW, untuk melibatkan diri dalam peperangan…?”
Dan kepada Zubair, beliau berkata, 'Wahai Zubair, demi Allah, apakah engkau ingat ketika Rasulullah melewatimu, sedangkan kami berada di tempat ini dan itu? Beliau kemudian ber­tanya, 'Wahai Zubair, apakah kamu mencintai Ali?' Kamu lalu menjawab, 'Mengapa aku tidak mencintai anak bibiku dan anak pamanku, bahkan seagama denganku?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda, 'Wahai Zubair, demi Allah, satu saat, engkau pasti akan memeranginya dan menzhaliminya."
Zubair menjawab, 'Demi Allah, aku telah lupa akan peristiwa tersebut semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah. Akan tetapi, sekarang baru teringat lagi. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu untuk selama-Iamanya.' Zubair kemudian kembali dengan menunggang kendaraannya membelah barisan.
Selesai mengucapkan kata-kata itu, Zubair cepat-cepat ke­luar mening-galkan pasukan dengan air mata membasahi pipi. Tetapi malang bagi Zubair, kepergiannya itu diikuti oleh Ammar bin Jarmuz yang kemudian membunuhnya sewaktu Zubair mau melaksanakan Sholat.
Semetara itu Talhah juga berniat mundur dari medan perang, tetapi, ia kemudian dipanah oleh Marwan bin Hakam dan mengenai lututnya yang mengakibatkan kematiannya.
Perang itu akhirnya terhenti ketika unta Aisyah Radhiyallahu 'anha jatuh ke tanah dan kemudian sekedupnya dibawa jauh dari medan pertempuran, Ali datang kepada­nya seraya mengucapkan salam dan menanyakan keadaannya seraya berkata, "Bagaimana keadaanmu, wahai ibunda?" Aisyah menjawab, "Baik." Ali berkata, "Semoga Allah mengampunimu." Selanjutnya orang-­orang dan para sahabat datang seraya mengucapkan salam kepadanya dan menanyakan keselamatannya.
Ali kembali ke Kufah yang telah dijadikan sebagai pusat khilafah. Sesam-painya di Kufah, Ali segera mengutus Jurair bin Abdullah al-Bajli kepada Mua'-wiyah di Syam guna mengajak bergabung ke dalam apa yang telah dilakukan orang-orang dan memberitahukan bahwa para Muhajirin dan Anshar telah sepakat untuk membaiatnya. Akan tetapi, Mu’awiyah berpendapat bahwa baiat itu tidak akan dinyatakan sah kecuali dengan kehadiran mereka semua. Karena itu, Mu'awiyah tidak bersedia memenuhi ajakan Ali sampai para pembunuh Utsman di­qishash kemudian kaum Muslimin memilih sendiri imam mereka.
Sementara itu, Ali berkeyakinan penuh bahwa baiat telah dilakukan de-ngan kesepakatan ahlul Madinah (penduduk Madinah), Darul Hijrah Nabawiyah. Dengan demikian, setiap orang yang terlam­bat berbaiat di antara orang-orang yang tinggal di luar kota Madinah berkewajiban untuk segera bergabung kepada pembaiatan tersebut. Adapun soal meng-qishash para pembu-nuh Utsman, Ali sendiri termasuk orang yang paling bersemangat keras untuk melakukannya, tetapi ia mempunyai rencana yang matang untuk menjamin keselamatan dan segala risikonya.
Setelah mendengar penolakan Mua'wiyah, Ali langsung menang­gapinya sebagai "pemberontak" yang keluar dari Jama'atul Muslimin dan imam mereka. Ali kemudian beserta pasukannya berangkat pada tanggal 12 Rajab tahun 36 Hijriah /5 Januari 657, lalu pasukan dikonsentrasikan di Nakhilah. Tidak lama kemudian, Ibnu Abbas datang kepadanya dari Bashrah, setelah bertugas sebagai wakilnya. Ali memobilisasi pasukan­nya untuk memerangi penduduk Syam dan menyerukan mereka tunduk kepada Jama'atul Muslimin.
Setelah mengetahui hal ini, Mu'awiyah pun dengan serta merta menge-rahkan pasukannya dari Syam hingga kedua pasukan ini bertemu di daratan Shiffin di tepi sungai Eufrat. Selama dua bulan atau lebih, kedua pihak saling bergantian mengirim utusan. Ali mengajak Mua'wiyah dan orang-orang yang bersamanya untuk membaiatnya. Beliau juga meyakinkan Mua'wiyah bahwa qishash terhadap para pembunuh Utsman pasti akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Sementara itu, Mua'wiyah menyerukan Ali agar sebelum melakukan segala sesuatu, hendaklah menangkap para pembunuh Utsman yang merupakan anak pamannya. Karena itu, dia (Mua'wiyah) merupakan orang yang paling berhak menuntut darahnya. Selama pembahasan dan perundingan ini barangkali telah terjadi pertempuran-pertempuran kecil dan manuver.
Keadaan ini terus berlangsung hingga datang bulan Muharram tahun 37 Hijriah. Mua'wiyah dan Ali kemudian sepakat untuk melakukan "gencatan sen-jata" selama sebulan, dengan harapan dapat dicapai ishlah. Akan tetapi, masa "gencatan senjata" ini berakhir tanpa mem­buahkan hasil yang diharapkan. Pada saat itu, Ali memerintahkan seorang petugas untuk mengumumkan, "Wahai penduduk Syam, Amirul Mu'minin menyatakan kepada kalian bahwa aku telah memberi waktu yang cukup kepada kalian untuk kembali kepada kebenaran, tetapi kalian tetap tidak mau berhenti dari pembangkangan dan tidak mau kem-bali kepada kebenaran. Karena itu, kini aku kembalikan perjanjian ini kepada kalian dengan penuh kejujuran. Sesungguhnya, Allah tidak mencintai para pengkhianat."
Saat itulah Mua'wiyah dan Amr bin Ash memobilisasikan pasukannya dari segala arah. Demikian pula Ali, sejak malam itu, ia memobilisasi pasukannya. Ia mengangkat Asytar an-Nakha'i sebagai komandan pasukan penduduk Bashrah. Ali kemudian berwasiat kepada pasukannya agar tidak mendahului penyerbuan hingga penduduk Syam memulainya, tidak menyerang orang yang luka, tidak mengejar orang yang mundur melarikan diri, tidak membuka aurat wanita, dan tidak menganiayanya.
Pada hari pertama dan kedua, pertempuran berlangsung de­ngan sengit. Perang berlangsung selama tujuh hari tanpa ada pihak yang kalah atau menang. Namun pada akhirnya, Mu'awiyah dan pasukannya semakin terdesak oleh pasukan Ali. Ali dan pasukannya nyaris mencatat kemenangan.
Saat itulah Mu'awiyah dan Amr ibnul Ash berunding. Amr bin Ash meng-usulkan supaya Mu'awiyah mengajak penduduk Irak untuk berhukum kepada Kitab Allah. Mu'awiyah lalu memerintahkan orang­-orang supaya mengangkat Mushaf di ujung tombak dan meme­rintahkan seorang petugas untuk menyerukan atas namanya, "Ini adalah Kitabullah di antara kami dan kalian." Ketika pasukan Ali melihat hal ini -mereka sudah hampir memperoleh kemenangan- terjadilah perselisihan di antara mereka. Ada yang setuju untuk berhukum kepada Allah dan ada pula yang tidak menghendaki kecuali peperangan karena siapa tahu hal itu hanyalah tipu daya.
Sebenarnya Ali cenderung pada pendapat yang terakhir, tetapi terpaksa mengikuti pendapat pertama yang pendukungnya mayoritas. Ali kemudian mengutus al-Asy'ats bin Qaia kepada Mu'awiyah guna menanyakan apa sebenarnya yang dikehendakinya. Mu'awiyah menjelaskan, "Mari kita kembali kepada Kitab Allah. Kami pilih seorang wakil yang kami setujui dan kalian pilih pula seorang wakil yang kalian setujui. Kita semua kemudian menyumpah kedua wakil tersebut untuk memutuskan sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Apa pun keputusan kedua wakil tersebut wajib kita ikuti."
Penduduk Syam kemudian memilih Amr bin Ash, sedangkan penduduk Irak memilih Abu Musa al-Asy'ari. Akhirnya diperoleh kesepakatan antarkedua belah pihak -setelah keduanya menulis suatu perjanjian menyangkut hal ini- untuk menunda keputusan tersebut sampai bulan Ramadhan, kemudian setelah itu, kedua hakim tersebut bertemu di Daumatul Jandal. Setelah kesepakatan ini, orang-orang pun bubar kembali ke tempat masing-masing.
Ali kembali dari Shiffin menuju Kufah. Sementara itu, di kalangan pasukan Ali terjadi perpecahan yang sangat berbahaya sehingga ketika sampai di Kufah, Ali dinyatakan dipecat oleh sekelompok orang yang menilai masalah tahkim sebagai suatu kesesatan. Mereka berjumlah sekitar 12.000 orang dan berhimpun di Harura'. Ali kemudian meng­utus Abdullah bin Abbas untuk berdialog dan menasihati mereka, tetapi upaya ini tidak membawa hasil apa-apa. Akhirnya, Ali sendiri berangkat menemui mereka. Setelah berhadapan dengan mereka, Ali bertanya, "Apa yang menyebabkan kalian melakukan pembang-kangan ini!" Mereka menjawab, "Masalah tahkim yang kamu setujui di Shiffin." Ali menjelaskan, "Tetapi aku telah mensyaratkan kepada kedua hakim itu agar menghidupkan apa yang dihidupkan al-Qur'an dan mematikan apa yang dimatikan al-Qur'an." Mereka mengatakan, "Coba jelaskan kepada kami, apakah adil ber-tahkim kepada orang di tengah gelimangan darah!" Ali menjawab, "Kami tidak berhukum kepada orang, tetapi berhukum kepada al-Qur'an. Al-Qur'an ini adalah tulisan yang termaktub di atas kertas dan tidak dapat berbicara. Yang dapat membunyikannya adalah orang." Mereka bertanya lagi,"Lalu mengapa kalian batasi waktunya!" Ali menjawab,"Supaya orang yang tidak tahu mengetahuinya dan yang tahu dapat berpegang teguh. Semoga Allah memperbaiki umat ini dengan gencatan senjata ini."
Akhirnya, mereka menerima pandangan Ali. Kepada mereka, Ali mengatakan, "Masuklah kalian ke negeri kalian. Semoga Allah melim­pahkan rahmat-Nya kepada kalian." Mereka semua kemudian masuk.
Setelah batas waktu yang ditentukan habis dan bulan Ramadhan tahun ke-37 Hijriah telah datang, Ali mengutus Abu Musa al-Asy'ari dengan sejumlah sa-habat dan penduduk Kufah. Adapun Mu'awiyah mengutus Amr ibnul Ash de-ngan sejumlah penduduk Syam. Kedua kelompok ini berkumpul di Daumatul Jandal. Setelah keduanya memanjatkan puja-puji kepada Allah dan saling menyampaikan nasihat, akhirnya diperoleh kesepakatan agar disiapkan lembar catatan dan seorang penulis yang akan mencatat semua yang telah disepakati kedua belah pihak. Nyatanya kedua belah pihak tidak mencapai kata sepakat tentang kepada siapa urusan umat ini (khilafah) akan diserahkan. Abu Musa al-Asy'ari setuju mencopot Ali dan Mua'wiyah kemudian tidak memilih untuk khilafah kecuali Abdullah bin Umar, tetapi ia sendiri tidak mau ikut campur da-lam urusan ini.
Saat itu, kedua hakim telah sepakat untuk mencopot Ali dan Mu'awiyah. Selanjutnya keduanya harus menyerahkan hal ini kepada syura kaum Muslimin guna menentukan pilihan mereka sendiri. Kedua­nya kemudian mendatangi para pendukungnya masing-masing. Amr ibnul Ash mempersilakan Abu Musa al-'Asy'ari maju. Setelah memanjatkan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata, "Wahai manusia, setelah membahas urusan umat ini, kami berkesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih dapat mewujudkan persatuan selain dari apa yang telah aku dan Amr sepakati, yaitu kami mencopot Ali dan Mu'awiyah."
Setelah menyampaikan kalimatnya, Abu Musa al-Asy'ari mundur. Setelah itu, tiba giliran Amr untuk menyampaikan kalimatnya. Setelah memanjatkan pujian kepada Allah, Amr mengatakan, "Sesungguhnya, ia (Abu Musa) telah menyatakan apa yang kalian dengar. Ia telah mencopot kawannya dan aku pun telah mencopotnya sebagaimana dia. Akan tetapi, aku mengukuhkan kawanku Mu'awiyah karena sesungguhnya ia adalah 'putra mahkota' Utsman bin Affan, penuntut darahnya, dan orang yang paling berhak menggantikannya."
Setelah tahkim ini, orang-orang pun bubar dengan rasa kecewa dan tertipu kemudian kembali ke negerinya masing-masing. Amr dan kawan-kawannya menemui Mu'awiyah guna menyerahkan khilafah kepadanya, sedangkan Abu Musa pergi ke Makkah karena malu kepada Ali. Ibnu Abbas dan Syuraih bin Hani' kembali kepada Ali dan men­ceritakan peristiwa tersebut.
Ketika Ali mengutus Abu Musa al-Asy'ari dan pasukannya ke Daumatul Jandal, masalah kaum khawarij (pembelot) semakin bertambah memuncak. Mereka sangat mengecam Ali, bahkan secara terus-menerus mengafirkannya karena tindakannya menerima tahkim, padahal kaum Khawarij ini sebelumnya termasuk mereka yang paling antusias terhadap Ali.
Setelah upaya dialog dan nasihat yang dilakukan Ali kepada mereka tidak bermanfaat sama sekali, akhirnya Ali berkata kepada mereka, "Sesungguhnya, kami berkewajiban untuk tidak melarang shalat di masjid-masjid kami selama kalian tidak membangkang terhadap kami. Kami tidak akan menahan bagian kalian terhadap fa'i ini selama tangan-tangan kalian bersama tangan-tangan kami dan kami tidak akan memerangi kalian sampai kalian memerangi kami."Setelah mengumumkan penolakannya terhadap keputusan dua hakim tersebut, Ali berangkat memimpin pasukan besar ke Syam untuk memerangi Mu'awiyah. Di samping itu, Ali mendapat berita bahwa Khawarij telah melakukan berbagai kerusakan di muka bumi, me­numpahkan darah, memotong jalan-jalan umum, memperkosa wanita-­wanita, bahkan membunuh Abdullah bin Khabbab, seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan istrinya yang sedang hamil. Akhirnya, Ali dan orang-orang yang bersamanya khawatir jika mereka pergi ke Syam sibuk memerangi Mu'awiyah, orang-orang Khawarij akan membantai keluarga dan anak keturunan mereka. Ali dengan mereka kemudian sepakat untuk memerangi Khawarij terlebih dahulu.
Ali dan pasukannya, termasuk di dalamnya para sahabat, berangkat mendatangi mereka. Ketika sampai di dekat Mada'in, Ali mengirim surat kepada orang-orang Khawarij di Nahrawan yang isinya, "Serahkanlah kepada kami para pembunuh saudara-saudara kami supaya kami dapat meng-qishosh mereka kemudian setelah itu kami akan biarkan kalian dan kami akan melanjutkan perjalanan ke Syam. Semoga Allah mengembalikan kalian kepada keadaan yang lebih baik dari keadaan sekarang."
Akan tetapi, mereka membalas Ali dengan menyatakan, "Kami semua adalah para pembunuh saudara-saudara kalian! Kami meng­halalkan darah mereka dan darah kalian!"
Setelah itu, Ali maju menemui mereka kemudian menasihati dan memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak memberikan jawaban selain dari suara bersahut-sahutan sesama mereka yang menyatakan siap perang dan menemui Rabbul 'Alamin.
Sebelum memulai peperangan, Ali memerintahkan Abu Ayyub al-Anshari agar mengangkat panji keamanan untuk orang-orang Khawarij dan memberi-tahukan kepada mereka,"Siapa yang datang ke panji ini maka dia aman, barang-siapa pergi ke Kufah dan Mada'in maka dia aman."
Sejumlah besar dari mereka pun meninggalkan tempat. Orang yang tetap bertahan di antara mereka hanya sekitar seribu orang yang dipimpin oleh Abdul-lah bin Wahab ar-Rasiy. Orang-orang Khawarijlah yang memulai peperangan ini. Akhirnya, mereka semua berhasil ditumpas, sedangkan yang syahid dari pihak Ali berjumlah tujuh orang.
Berbagai situasi buruk tampaknya masih harus dihadapi oleh Amirul Mu'minin Ali Radhiyallahu 'anhu. Pasukannya mengalami kegun­cangan. Sejumlah besar penduduk Irak rnelakukan pembangkangan terhadapnya, semen-tara masalah di Syam pun semakin meningkat. Mereka berpropaganda ke ber-bagai penjuru, seperti dikatakan oleh Ibnu Katsir, bahwa kepemimpinan telah berpindah ke tangan Mu'awiyah sesuai dengan keputusan dua hakim. Para pen-duduk Syam semakin bertambah kuat, sedangkan para penduduk Irak semakin bertambah lemah.
Adalah Abdurrahman bin Muljim, salah seorang tokoh Khawarij yang sedang melamar seorang wanita cantik bernama Qitham. Karena ayah dan saudara wanita ini terbunuh di peristiwa Nahrawan, ia mensyaratkan kepada Abdurrahman bin Muljim, jika ingin menikahinya, ia harus membunuh Ali. Dengan gembira, Abdurrahman bin Muljim menjawab, "Demi Allah, aku tidak datang ke negeri ini kecuali untuk membunuh Ali." Setelah menjadi suami istri, wanita ini semakin keras menggerakkan suaminya untuk membunuh Ali.
Pada malam Jumat tanggal 19 Ramadhan tahun 40 Hijriah, Abdurrahman bin Muljim -bersama dengan dua orang temannya ­mengincar Ali di depan pintu yang biasa dilewatinya. Seperti kebiasa­annya, Ali keluar membangunkan orang untuk shalat subuh, tetapi ia dikejutkan oleh Ibnu Muljim yang memukul kepalanya dengan pedang sehingga darahnya mengalir di jenggotnya.
Setelah mengetahui bahwa yang melakukan tindak kriminal ini adalah Ibnu Muljim, Ali berkata kepada para sahabatnya, "Jika aku mati, bunuhlah ia, tetapi jika aku hidup, aku tahu bagaimana bertindak terhadapnya." Ketika sakratul maut, Ali tidak mengucapkan kalimat apa pun selain la Ilaha ilallah. dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.
Sementara itu, pelaksanaan qishash Ibnu Muljim dilakukan oleh Hasan Rodhiyallahu 'anhu kemudian jasadnya dibakar dengan api.
Begitu melihat Khalifah Ali bin Abi Thalib terluka parah, maka pengi-kutnya meminta kepada beliau agar mengangkat Sayyidina Hasan ra sebagai Khalifah. Namun saat itu Imam Ali tidak menyetujui permintaan tersebut dan beliau hanya berkata: Saya tidak memerintahkan kalian dan saya juga tidak melarang kalian, saya tinggalkan kalian sebagaimana Rasululloh mening-galkan kalian. ( H.R. Ahmad )
Selanjutnya begitu Imam Ali wafat (syahid), pengikutnya bermusyawarah dan setelah dua hari dari kemangkatan Imam Ali mereka sepakat mengangkat Sayyidina Hasan ra sebagai Khalifah. Setelah pembaiatan itu, pengikut Imam Hasan menyarankan padanya untuk menyerang Muawiyah di Syam.
Kemudian Khalifah Hasan segera mempersiapkan pasukan, dan terkum-pullah sebanyak dua belas ribu personel dan yang diangkat sebagai panglima adalah sepupu ayahnya yaitu Ubaidillah bin Abbas dan dibantu oleh orang-orang dekat ayahnya seperti Qais bin Saad Al-Anshory dan Said bin Qais.
Oleh karena ada berita bahwa Muawiyah dan pasukannya sudah berangkat dari Syam menuju Kufah dengan jumlah yang sangat besar, diperkirakan enam puluh ribu orang, maka Khalifah Hasan ra segera memerintahkan Ubaidillah dan pasukannya agar segera berangkat menuju Maskin, satu tempat antara Kufah dan Damaskus .
Pesan Khalifah Hasan ra kepada Ubaidillah bin Abbas dan anak buahnya sbb; Jangan menyerang sebelum diserang oleh pasukan Muawiyah. Kemudian apabila dalam pertempuran Ubaidillah bin Abbas gugur maka yang menggantikan sebagai panglima adalah Qais bin Saad dan apabila Qais juga gugur maka yang menggantikannya Said bin Qais.
Sepeninggal Ubaidillah dan pasukannya, Khalifah Hasan ra segera menga-jak penduduk Irak untuk bergabung bersamanya menghadapi Muawiyah dan pasukannya . Sehingga saat berhadapan dengan pasukan Muawiyah, dipihak Khalifah Hasan ra sudah berjumlah empat puluh ribu personel.
Namun, Muawiyah dengan segala kelihaiannya dapat mempengaruhi orang-orang dipihak Khalifah Hasan. Ubaidillah sendiri terpengaruh dan akhirnya berpihak ke Muawiyah. Hal ini tentu membuat bekas anak buahnya menjadi lemah semangatnya untuk melawan musuh. Sehingga banyak dari pasu-kan Khalifah Hasan ra yang lari meninggalkan Maskan.
Melihat situasi yang tidak menggembirakan dan melihat akibat yang akan terjadi apabila dua pasukan ini sampai berperang, dimana korban yang akan berjatuhan dari kedua belah pihak akan mencapai jumlah yang sangat besar, ma-ka Khalifah Hasan ra. yang dikenal arif lagi bijaksana serta lebih memen-tingkan perdamaian dari pada pertempuran, berinisiatif untuk menyerahkan kepemimpinan umat islam saat itu kepada Muawiyah.
Khalifah Hasan ra. segera mengirim surat ke Muawiyah menyampaikan maksudnya, dengan catatan agar Kekhalifahan setelah Muawiyah diserahkan kepada majelis Syura. Muawiyah juga tidak boleh mengganggu pendukung Imam Ali yang pernah memeranginya. Begitu pula agar Muawiyah memberikan dari Baitul Mal sejumlah uang untuk Ahlul Bait yang memang hak mereka.
Selesai membaca surat tersebut Muawiyah merasa senang dan menerima syarat tersebut terkecuali sepuluh orang yang akan diambil tindakan. Namun Sayyidina Hasan ra menolak permintaan tersebut.
Mengetahui penolakan tersebut Muawiyah segera mengirim kertas putih yang sudah ditanda tanganinya, untuk diisi oleh Khalifah Hasan ra, sesuai dengan permintaannya tersebut.Demikianlah proses penyerahan kekuasaan atau kekhalifahan dari Sayyidina Hasan ke Muawiyah.
Kejadian atau perdamaian ini sekaligus membuktikan apa yang pernah disabdakan oleh Rosulullah SAW, “Sesungguhnya cucuku ini pemimpin, dan Insya Allah, melaluinya akan mendamaikan antara dua kelompok besar dari kaum Muslimin”.
Selanjutnya dengan penyerahan kekuasaan dari Sayyidina Hasan ra ke Muawiyah yang terjadi pada pertengahan bulan Jumadil Awal tahun empat puluh satu Hijriyah ini, maka kekhalifahan selanjutnya dipegang oleh Sahabat Muawiyah. Umur Muawiyah saat itu enam puluh enam tahun, sedang umur Sayyidina Hasan tiga puluh delapan.
Dalam sejarah islam, tahun dimana terjadi perdamaian antara Sayyidina Hasan ra dan Muawiyah ini, disebut AAMUL JAMAAH. Karena pada saat itu Muslimin bersatu dibawah satu komando
Selanjutnya setelah Sayyidina Hasan ra menyerahkan Kekhalifahan kepada Muawiyah dan membaiatnya, beliau dan seluruh keluarganya segara meninggalkan Kufah dan kembali menetap di Madinah.
Hampir sepuluh tahun Sayyidina Hasan ra. tinggal diMadinah, dan waktunya banyak beliau habiskan dalam beribadah dan mengamalkan ilmunya.
Bila beliau selesai sholat subuh, beliau selalu mampir ketempat istri istri Rosulullah SAW. Dan terkadang memberi mereka hadiah. Namun bila beliau selesai sholat zuhur, beliau tetap duduk di Mas’jid mengajar, dan terkadang menambah ilmu dari para Sahabat Rosululloh SAW yang masih ada.
Akhirnya pada tanggal dua puluh delapan bulan safar tahun lima puluh Hijriyah, Sayyidina Hasan ra pulang kerahmatullah dalam usia empat puluh tujuh tahun dan dimakamkan dipemakaman umum Baqi’.
Bertindak selaku Imam dalam sholat jenazahnya adalah Said bin Ash, Kepala Daerah Madinah.
Mengenai kematian Sayyidina Hasan ra.ini, para ahli sejarah mengatakan, bahwa beliau wafat karena diracun. Ada yang menyebutkan beliau diracun oleh istrinya. Tapi berita ini masih simpang siur.

Peristiwa yang Terjadi di Masa Kekhalifahannya
25 Juni 656, Ali bin Abi Thalib dibaiat menjadi Khalifah.
656 Terjadinya perang Jammal antara Pihak Ali dengan Aisyah, Talhah dan Zubair
657 Qays Ibn Sa'ad menjadi Gubernur Mesir
657 Malik Ibn Al-Harith menjadi Gubernur Mesir
657[1] Saidina Ali memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kufah
26 Juli 657 Terjadinya Perang Siffin antara Ali dan Muawiyah
28 Juli 657 Perang Sifin berakhir
658 Muhammad ibn Abi Bakr menjadi Gubernur Mesir selama 5 bulan
Februari 658, Terjadi Tahkim pihak Ali dan Muawiyah
658 Ali bin Husain (658-713) dilahirkan. Ia anak dari Husain bin Ali dan cicit dari Muhammad. Ia dikenal oleh Syi'ah dengan julukan Zainal Abidin karena kemuliaan pribadi dan ketakwaannya dan as-Sajjad sebagai tanda "orang yang terus melakukan sujud dalam ibadahnya". Beliau juga dipanggil dengan nama Abu Muhammad, bahkan kadang ditambah dengan Abu al-Hasan
659[2] Penaklukan Mesir oleh Amr bin Ash.
659 Saidina Ali menaklukan kembali Hijaz dan Yaman dari kekuasaaan Muawiyah.
660[3] Perang Nahrawand : Pasukan Ali melawan kaum Khawarij
26 Januari 661[4] Ali bin Abi Thalib ditikam oleh oleh Abdrrahman bin Muljam (kelompok Khawarij) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah,
28 Januari 661 Ali bin Abi Thalib wafat. Beliau dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain. Hasan bin Ali dibaiat menjadi khalifah.
[1] 657 Di Roma : Santo Vitalian dari Segni (657-672) menjadi Paus menggantikan Santo Eugene I (654-657)
[2] 659 Di Cina : KeKhaganan Ashina barat dikalahkan oleh dinasti Tang
[3] 660 Di Cina : Kaisar Tang Gao Zong (650-683) terkena stroke dan mengalami kebutaan serta kelumpuhan. Selirnya, Wu Zetian mulai bertindak atas nama suaminya dalam memegang kekuasaan kenegaraan
660 Di Korea : Raja Silla, Raja Muyeol, menundukkan Baekje bersama Jenderal Kim Yushin yang dibantu pasukan dari Dinasti Tang. Anggota kerajaan Baekje melarikan diri ke Jepang.
[4] 661 Di Korea : Silla dan Tang menyerbu Koguryo, namun dapat ditangkis oleh Koguryo
Kaisar Tenji (661-672) menjadi Kaisar Jepan menggantikan Ratu Saimei (655-661)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar