Sabtu, 20 Februari 2010

KHULFAUR RASYIDIN : UMAR BIN KHATAB

UMAR BIN KHATAB (634-644 M)
Profil SingkatUmar Bin Khatab dilahirkan kira-kira pada tahun 582 M, di Mekah, dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy. Orangtuanya bernama Khaththab bin Nufail Al Mahzumi Al Quraisyi dan Hantamah binti Hasyim.
Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat Mekkah.
Ketika Nabi Muhammad mendakwahkan Islam, mula-mula Umar bin Khatab menentangnya, bahkan ingin membunuh Nabi Muhammad SAW. Na-mun hidayah Allah datang tak terduga, Beliau malah masuk islam begitu mende-ngar adiknya membaca ayat Alquran surat Thoha. Dengan masuknya Umar bin Khatab kedalam agama Islam, maka dakwah agama islam menjadi kuat.
Beliau ikut serta dalam hijrah ke Madinah, dan juga turut serta dalam peperangan menghadapi kaum kafir Quraish seperti perang Badar, Uhud, Ahzab, Khaibar dan sebagainya. Beliau adalah satu-satunya sahabat yang berdiskusi de-ngan Nabi dan kadang kala pendapatnya dikukuhkan melalui wahyu dari Allah SAW. Pada tahun 625, putrinya (Hafsah) menikah dengan Nabi Muhammad.
Ketika Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 8 Juni 632 / 12 Rabiul Awal 11 H, Beliau tidak mempercayainya dan berpendapat Rasulullah hanya pergi sebentar menemui Khaliknya sebagai mana dengan Musa bin Imran. Tapi untunglah Abu Bakar menenangkannya sehingga dapat menerima kenyataan wafatnya Rasullullah.
Umar bin Khatab juga berperan dalam pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah, sehingga perpecahan yang akan terjadi bisa dihindari.
Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasehat kepalanya. Kemudian setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikannya.
Menjadi khalifahHal pertama yang dilakukannya setelah menjabat khalifah adalah mencopot Khalid bin Walid dari jabatan komandan pasukan dan menggantinya dengan Abu Ubaidah. Tatkala Khalid bin Walid menanyakan perlakuan Umar terhadap dirinya, Umar ra. Menjawab, “Demi Allah Wahai Khalid, sesung-guhnya engkau sangat kumuliakan dan sangat kucintai.”
Kemudian Umar ra. Menulis surat ke berbagai negeri dan wilayah menya-takan kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak memecat Khalid karena keben-cian dan tidak pula karena pengkhianatan. Tetapi aku memecatnya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan serangan-serangannya dan kedahsyatan benturan-benturannya.”
Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sasaniyah dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sasaniyah) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Byzantium. Yang menarik operasi-operasi penaklukan seperti di Persia dan Syam, dikendalikan langsung oleh Khalifah Umar bin Khatab dari Madinah yang jaraknya ribuan mil dari medan pertempuran. Beliau mampu memberikan perintah-perintah militer secara mendetail kepada pangglimanya sehingga berhasil menuntun pasukannya dan mengawasi gerakan musuh. Pres-tasi ini membuat Umar tercatat dalam sejarah sebagai seorang ahli strategi militer ulung dan politikus jenius.
Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penak-lukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yak-ni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sasaniyah dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.
Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk shalat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk shalat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia shalat.
Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.
Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di jaman itu, ia tetap hidup sebagai-mana saat para pemeluk Islam masih miskin dan dianiaya.
Salah satu sikap yang menonjol dari Khalifah Umar bin Khatab adalah rasa takutnya yang besar kepada Allah dalam menjalankan tugas kekhalifa-hannya. Hal inilah yang membuat ia sangat hati-hati dan bersungguh-sungguh dalam memimpin umat. Ia memimpin hampir tanpa jam kerja. Pagi, siang, malam selalu siap melayani rakyatnya. Pada malam hari seringkali ia berpatroli untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Jika ia menjumpai rakyatnya yang kelapa-ran, ia sendiri yang akan mengantarkan bahan makanan kepada rakyatnya yang kelaparan itu seperti dalam kisah-kisah yang termashyur.
KematianUmar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk, seorang budak pada saat ia akan memimpin shalat. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk terhadap Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Sebelum wafatnya Beliau membentuk tim yang terdiri dari Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awam, Saad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf untuk memilih Khalifah penggantinya.
Peristiwa yang Terjadi di Masa Kekhalifahannya23 Agustus 634, Abu Bakar Wafat, Umar Bin Khatab dibaiat menjadi Khalifah ke II.
24 Agustus 634, Khalifah Umar bin Khatab menulis surat kepada Abu Ubaidah di Syam mengenai berita wafatnya Khalifah Abu Bakar, serta peme-catan Khalid bin Walid sebagai Pangglima tertinggi di Syam. Jabatan Pangglima diserahkan kepada Abu Ubaidah. Pada saat itu kaum muslimin dalam kedaan mengepung kota Damaskus.
25 Agustus 634, Umar bin Khatab memerintahkan untuk membebaskan seluruh tawanan Perang Riddah dan dikembalikan kepada keluarganya masing-masing. Setelah Shalat Ashar, Umar memobilisasi kaum Mukminin untuk diberangkatkan bersama Mutsanah bin Haritsah ke Irak. Orang pertama yang menyambut seruan ini adalah Abu Ubaid. Oleh karena itu dialah yang ditunjuk sebagai pangglima. Jumlah pasukan mencapai 1000 orang. Sedangkan Mutsanah bin Haritsah langsung diperintahkan untuk berangkat ke Hira terlebih dahulu.
27 Agustus 634, Khalifah Umar memerintahkan kepada Ya'la bin Umayyah agar kaum Nasrani Najran itu mengosongkan perkampungan mereka dan pindah ke tanah luar semenanjung arab.
September 634, Mutsana bin Haritsah tiba di Hira dari Madinah setelah ditunjuk Khalifah Umar untuk meneruskan perjuangan melawan Persia. Pada saat itu pasukan Persia yang dipimpin Jaban bergerak ke Hira. Oleh karena itu Mutsana memutuskan untuk bertahan. Ia menarik mundur pasukan-pasukan muslim di pos terdepan ke Suwad. Dan ketika pasukan Jaban mendekati Hira, beliau menyingkir ke Khaftan agar lebih dekat ke gurun pasir.
7 September 634, Utusan Khalifah Umar telah sampai ke Damaskus dan menemui Ubaidah dengan membawa surat pemecatan Khalid sebagai pangglima tertinggi dan menunjuk Abu Ubaidah sebagai Pangglima tertinggi. Oleh Abu Ubaidah surat permecatan ini dirahasiakan dahulu.
9 September 634, Khalid bin Walid menerima kabar bergeraknya pasukan Bizantium dari Emessa ke Damaskus. Oleh karena itu beliau menugaskan Zahrar dengan 5000 pasukan untuk mencegat pasukan itu di Bait Lihya. Dalam pertempuran di Bait Lihya itu, Zarar tertangkap. Komando diambil alih oleh Rafi yang mengirim kabar tersebut kepada Khalid. Khalid kemudian bergerak ke Bait Lihya dengan 4000 cavalery. Komando di Damaskus dipegang oleh Abu Ubaidah. Khalid berhasil mengalahkan pasukan Bizantium. Kemudian beliau kembali ke Damaskus. Zarrar berhasil dibebaskan.
18 September 634, Di Syam, Jonah, putra Marcus, berkebangsaan Yunani menginformasikan kepada Khalid bin Walid tentang perayaan dimalam hari di kota Damaskus yang merupakan kesempatan untuk menguasai kota dengan serangan mendadak. Khalid memberikan amnesti untuknya dan wanita yang dicintainya. Saat itu tidak ada waktu lagi untuk mengkordinasikan rencana penyerangan ke seluruh pasukan, oleh karena itu Khalid bin Walid memutuskan menyerang gerbang timur benteng kota Damaskus sendiri.
19 September 634, Pasukan Khalid bin Walid berhasil menaklukan kota Damaskus setelah tiga kali menahan serangan pasukan romawi yang mencoba melepaskan diri dari kepungan. Sisa-sisa pasukan Bizantium menawarkan gencatan senjata yang disetujui pangglima Abu Ubaidah. Gencatan ini berlang-sung selama 3 hari.
22 September 634 Setelah penaklukan Damaskus, Khalid bin Walid dengan pasukannya yang berjumlah 4000 orang bergerak ke Jabal Ansariyah dan berperang lagi dengan pasukan Bizantium yang berjumlah 10 ribu orang yang dipimpin Harbes dan Thomas. Beliau berhasil membunuh Thomas, menantu Kaisar Heraklius dan juga Harbess. Perang ini disebut juga dengan Perang Maraj-al-Debaj.
25 September 634 Pangglima Abu Ubaid berangkat ke Irak dengan 1000 orang pasukan, dalam perjalanan ia merekrut banyak pasukan dari suku-suku yang ditemui.
01 Oktober Pasukan Khalid kembali ke Damaskus. Beliau diberitahu tentang pemecatannya sebagai pangglima tertinggi dan pengangkatan Abu Unbaidah sebagai Pangglima tertinggi. Segera diadakan acara serah terima komando. Khalid bin Walid memilih berada dibawah komando Abu Ubaidah.
2 Oktober 634, Di Irak : Abu Ubaid sampai di Khaftan, pasukannya sudah mencapai 4000 orang. Dan ketika pasukan Persia yang dipimpin Jaban berkemah di Namaraq, pasukan muslim menyerangnya. Dalam pertempuran ini pasukan muslim meraih kemenangan.
10 Oktober 634, Di Irak : Pangglima Abu Ubaid berhasil mengalahkan pasukan persia dibawah pimpinan Narsi di Kasqar dekat Saqatia dan berhasil menduduki daerah pinggiran Irak di bagian hulu sampai ke hilir sehingga para pejabat daerah itu kembali mengajak damai kepada Abu Ubaid sambil meminta maaf karena dulu mereka telah berpihak dan bekerja sama dengan pihak Persia. Sementara itu Mutsanah kembali ke Hirah.
15 Oktober 634, Di Syam : Pangglima Abu Ubaidah mengirim Khalid bin Walid untuk menolong pasukan muslim yang terjebak oleh pasukan Bizanium di Abu-al-Quds. Khalid berhasil mengalahkannya dalam pertempuran Abu Al quds. Ia kembali ke Damaskus dengan ranpasan perang yang banyak dan ratusan tawanan Bizantium.
28 November 634, Di Irak : Terjadi Perang Jembatan antara pasukan muslim dibawah pimpinan Abu Ubaid dengan pasukan persia yang dipimpin Behman. Abu Ubaid sendiri terbunuh syahid ketika menghadapi pasukan gajah persia. Pasukan Muslimin mengalami kekalahan telak. Komando Pasukan diambil alih oleh Mutsanah. Pasukan Muslim mundur ke Ulais. Disini Mutsanah berhasil mengalahkan pasukan persia. Mutsanah mengirim surat kepada khalifah umar meminta bantuan. Khalifah Umar mengirim pasukan bantuan yang dipimpin Jarir bin Abdullah.
Desember 634, Di Syam : Pasukan Bizantium mulai berkumpul ke Baisan untuk memotong komunikasi pasukan muslimin antara Syam dan Arabia.
14 Januari 635 Di Syam : Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bergerak dari Damaskus bersama Khalid bin Walid serta pasukan dari Irak menuju Fahl untuk menyongsong serangan Bizantium
15 Januari 635 Di Syam : Pasukan Muslim tiba di Fahl dan menjumpai Pasukan Bizantium tidak ada. Abul A’war ketika menaklukan kota itu menjumpai rawa-rawa membentang di kedua sisi sungai Jordan
23 Januari 635[1], Di Syam : Terjadi Pertempuran Fahl antara Pasukan Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid dengan pasukan Bizantium yang dipimpin Theodore the Sacellarius. Pangglima Theodore the Sacellarius terbunuh sehing-ga menurunkan moral pasukan. Mereka kemudian merlarikan diri ke Baisan Setelah kemenangan itu Abu Ubaidah dan Khalid kembali ke Damaskus. Satu Kontingen ditinggalkan untuk menaklukan Baisan dan kontingen lain untuk menaklukan Tabariyya.
25 Februari 635, Di Syam : Shurahbil, dengan Amr bin Aas menyebrangi rawa dan sungai menuju Baisan dan mengepungnya. Pengepungan barlangsung beberapa hari sampai akhirnya menyerah dan bersedia membayar Jizyah. Dalam peperangan Marjus Sufar ini, Khalid bin Said gugur.
26 Februari 635 Di Syam : Heraklius mengirim pasukan untuk menak-lukan kembali Damaskus. Ia memerintahkan pasukan dari Antiokia yang dipimpin Theodorus untuk menaklukan kembali Damaskus. Ia juga mengirim balabantuan pasukan dari Emessa yang dipimpin oleh Shan
28 Feburari 635 Di Syam : Shurahbil bin Hasanah pergi ke Tabariya (Tiberias), penduduk disitu segera menyerah dan membayar Jizyah
7 Maret 635, Di Syam : Pasukan Muslim bertemu dengan pasukan Bizan-tium di Marj ur Rum. Kontingen Abu Ubaidah berhadapan dengan Shan, sedangkan Khalid bin Walid berhadapan dengan Theodorus. Kedua pihak saling menunggu. Ketika malam menjelang pasukan Theodorus bergerak ke Damaskus, meninggalkan kontingen Shan.
8 Maret 635 Di Syam : Theodurus sampai di Damaskus. Yazid bin Abu Sofyan berusaha mengusir pasukan bizantium. Terjadi pertempuran sengit. Pasukan Bizantium berjumlah besar. Tapi untunglah Khalid bin Walid datang membantu setelah menyadari Theodorus tidak berada di Masj Ur Rum. Pasukan Theoidorus berhasil dikalahkan. Theodorus berhasil dibunuh Khalid bin Walid.
8 Maret 635, Di Syam : Abu Ubaidah mengalahkan pasukan bizantium da-lam perang Marj Ur Rum. Pangglimanya, Shan, terbunuh dalam adu duel dengan Abu Ubaidah. Sisa-sisa pasukan Bizantium melarikan diri Ke Emessa. Oleh karena itu beliau merencanakan untuk menaklukan Emessa..
15 Maret 635, Di Syam : Abu Ubaidah bergerak ke Heliopolis, dimana terdapat kuil Jupiter. Penduduk Heliopolis menyerah kepada kaum muslimin dan bersedia membayar Jizyah.
April 635 Khalifah Umar, setelah mendapat laporan tentang posisi dan kekuatan pasukan Byzantium di Palestina, menulis surat yang berupa instruksi kepada pangglima pasukan di Palestina dan memerintahkan Yazid untuk menguasai pesisir Mediterranea. Pasukan Amr bin Ash dan Shurahbil bergerak melawan pasukan Bizantium terkuat di ajnadain dan mengalahkan mereka dalam perang Ajnadayn yang ke dua setelah itu kedua brigade tersebut berpisah.
April 635, Di Irak : Pasukan Mutsana bin Haritsah berhasil mengalahkan pasukan persia di Buwaib. Dalam Perang ini pasukan Muslimin mendapat rampasan perang yang banyak, terdiri dari sapi, kambing dan tepung terigu,yang kemudian dikirimkan ke Medinah dan kepada keluarga-keluarga yang diting-galkan di perbatasan Semenanjung Arab, dan juga kepada keluarga-keluarga yang tinggal di Hirah yang sudah lebih dulu ke Irak sebelum terjadi Perang Buwaib dan pertempuran di jembatan. Mutsanah kemudian menunggu bantuan untuk menyerang Madain (Ctesiphon). Sebelum bantuan datang beliau wafat karena luka-luka yang didapat dari perang Jembatan.
Mei 635 Di Syam : Amr bin Ash bergerak menguasai Nablus, Amawas, Gaza dan Yubnu untuk menyempurnakan penaklukan seluruh Palestina. Sedangkan Shurahbil bertolak menyerang kota Acre dan Tyre yang berada dipesisir pantai. Yazid meninggalkan Damaskus dan menaklukan kota pelabuhan seperti Sidon, Arqa, Jabail dan Beirut.
Juni 635[2] Di Irak Selatan : Utba bin Ghazwan yang bertolak dari Madinah dengan 2,000 pasukan tiba di perbatasan Uballa. Ia mengambil alih komando pasukan disektor itu. Pasukan muslim berkemah di tempat yang berjarak 12 mil dari Daerah Basra (saat itu basra belum dibangun).
Juli 635 Di Syam : Abu Ubaidah mengirim pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid bergerak ke Emesa dan mengepung kota tersebut. Beberapa hari kemudian Abu Ubaidah juga tiba di sana dengan sisa pasukan muslim. Oleh karena itu penduduk Emesa meminta perdamaian selama satu tahun. Mereka bersedia membayar jizyah dan kaum muslim bebas keluar masuk kota. Abu Ubaidah, menerima permintaan itu.
Agustus 635, Di Syam : Abu Ubaidah menaklukan kota-kota sekitar Emessa seperti Hamah, Ma’arrat an Nu’man. Mereka menyerah dan bersedia membayar Jizyah.
September 635 Di Irak Selatan : Pasukan Utbah bin Ghazwan berhasil menguasai kota Uballa setelah sebelumnya mengalahkan pasukan Persia yang datang dari distrik Furat. Dengan Uballa sebagai basis, Utbah mengirim pasukan menyebrangi sungai Tigris dan menguasai kota Furat. Setelah itu bergerak ke Meisan dan berhasil mengalahkan pasukan Persia sehingga kota Meisanpun jatuh ketangan Muslim. Pasukan Muslim yang lain berhasil menguasai kota Abarqubaz. Kompi yang lain menguasai Mazar. Setelah itu mereka kembali ke Uballa.Dengan demikaian sektor selatan berada ditangan muslim sehingga suply logistik persia dari Fars berhasil di blokade.
Oktober 635, Di Irak Selatan : Gubernur Abarqubaz memberontak. Utba mengirimkan pasukan dibawah pimpinan Mughirah bin Shu'ba untuk memadamkan pemberontakan. Dua pasukan bertemu di Marghab. Pasukan Persia dikalahkan dan Pangglima mereka, Filhan dibunuh. Kemudian terjadi pemberontakan di distrik Meisan. Pasukan Muslim dibawah pimpinan Mughira bergerak memadamkan pemberontakan dan berhasil dipadamkan.
20 Oktober 635 Khalifah Umar mengumpulkan manusia untuk melakukan shalat tarawih dengan berjama'ah
November 635 Daerah Irak Selatan sudah berhasil diamankan pasukan Muslim. Pimpinan pasukannya saat itu, Utbah kemudian berangkat ke Madinah, tapi beliau meninggal disana. Khalifah Umar kemudian menunjuk Mughirah bin Shu’ba untuk menjadi Pangglima Pasukan di sektor Irak selatan.
November 635, Di Syam : Kaisar Heraklius mengirimkan balabantuan pasukan ke Emessa. Sehingga penduduk Emessa memutuskan perjanjian perdamaian dengan kaum muslimin.
Desember 635, Di Syam : Khalid bin Walid mulai mengepung kota Emessa. Pengepungan ini berlangsung selama 3 bulan. Saat itu daerah Palestina, Yordania dan Syria selatan kecuali Yerusalem dan Caesarea, telah berada ditangan muslim.
Januari 636 Di Syam : Atas perintah Khalifah Umar,. Yazid bin Abu Sofyan mengepung kota Caesarea.
Februari 636 Di Syam : Kaisar Heraklius mengumpulkan pasukan yang besar untuk merebut kembali daerah Syria dari tangan Muslim.
Maret 636, Di Syam : Dari dalam kota Emessa, Pasukan Bizantium yang dipimpin Harbess menyerang pasukan muslim secara mendadak untuk mene-robos kepungan yang dilakukan muslimin. Dalam pertempuran itu Khalid bin Walid berhasil mengalahkan pasukan musuh sehingga Emessa berhasil ditak-lukan.
Maret 636 Di Madinah : Khalifah Umar memobilisasi kaum muslimin untuk berjihad ke Irak. Banyak yang menyambut seruan ini. Mulanya beliau sen-diri yang akan memimpin pasukan ini, tetapi setelah setelah berdiskusi dengan para sahabat besar nabi, maka komandan pasukan diserahkan kepada Saad bin Abi Waqas
April 636, Di Syam : Setelah penaklukan Emessa, Abu Ubaidah dan Khalid bergerak ke utara dan menaklukan seluruh Syria utara.
Mei 636, Di Irak Saad bin Abi Waqas bergerak dari Sirar dengan 4000 pasukan. Diwaktu keberangkatannya Khalifah Umar mendoakan kesuksesan eksepedisi Saad bin Abi Waqas. Umar kemudian mengirim kembali 4000 pasukan untuk bergabung dengan pasukan utama di Zarud, sehingga kekuatan pasukan di Zarud mencapai 15000 orang. Sementara Mutsana dengan 3000 pasukannya masih di Sharaf 60 mil dari Zarud.
Mei 636, Di Syam : Pasukan Bizantium yang sudah dikumpulkan oleh Kaisar Heraklius berkumpul di Antiokia. Saat itu pasukan muslim dipecah men-jadi 4 front. Front Amr bin Ash beroperasi di Palestina, Shurahbil di Yordania, Yazid di Caesaria sedangkan Abu Ubaidah dan Khalid berada di Emessa. Pasukan Bizantium merencanakan menaklukan kembali Emessa dan Damaskus.
Juni 636 Di Syam : Abu Ubaidah melakukan rapat perang. Diputuskan untuk menyatukan seluruh pasukan dan berkonsentrasi di selatan Syria sehingga bisa selalu berkomunikasi dengan semenanjung arabia. Oleh karena itu Pasukan Muslimin mengosongkan Emessa, Damaskus dan pos lainnya di Syria Utara dan berkonsentrasi di Jabiya di lembah Yarmuk, selatan Damaskus. Ketika pasukan Bizantium sampai di Emessa mereka melihat pasukan muslim telah pergi. Di Damaskus juga sudah dievakuasi.
7 Juli 636 Di Syam : Pasukan Muslim berkumpul di Lembah Yarmuk.
10 Juli 636 Di Irak : Pasukan Saad bin Abi Waqash dari Zarud tiba di Sharaf. Saat itu, Mutsanah bin Haritsah telah meninggal karena luka-luka dari Perang Jembatan. Untuk menghormati Mutsana, Saad bin Abi Waqas menikahi Janda Mutsana, Salma binti Khasfa.
12 Juli 636 Di Irak : Pasukan utama Muslim bergerak dari Sharaf ke Qadisiyya yang terletak di tepi barat Ateeq, dipinggiran sungai Eufrat. Berdasarkan Instruksi Umar, Saad bin Abi Waqas mengirim utusan sebanyak 12 orang untuk menawarkan islam kepada Yazdjurd, Kisra Persia.
21 Juli 636 Di Syam : Pasukan Bizantium bergerak ke selatan dan mencapai lembah Yarmuk dan berkemah disana dan siap menyerang pasukan muslim yang berjarak 18 mil dari kemah mereka. Pasukan ini dipimpin Vahan.
22 Juli 636 Di Syam : Vahan mengirim pasukan Ghassan yang dipimpin Rajanya, Jabbala untuk mengecek kekuatan muslim, tetapi pasukan Khalid berhasil mengalahkan pasukan itu. Selama sebulan kedepan terjadi negosiasi antara pasukan Muslim dan Bizantium.
23 Juli 636 Di Syam : Bala bantuan dari Madinah berdatangan. Dalam rapat perang, Abu Ubaidah menyerahkan komando pasukan kepada Khalid bin Walid.
15 Agustus 636, Di Syam : Terjadilah perang Yarmuk antara pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid melawan Pasukan Bizantium.
20 Agustus 636 Di Syam : Pasukan Muslim berhasil mengalahkan Pasukan Bizantium dalam Perang Yarmuk dan mengakhiri kekuasaan Bizan-tium di Asia Kecil bagian selatan.
21 Agustus 636, Di Syam : Dari Yarmuk, Abu Ubaidah melaporkan kepada Khalifah tentabg kemenangan Yarmuk. Pesan kemenangian ini dibawa oleh Huzaifa bin Yaman.
04 September 636 Di Madinah : Kemenangan Yarmuk sampai ke Khalifah Umar. Ia kemudian menulis surat kepada Abu Ubaidah mengucapkan selamat dan memerintahkan untuk menaklukan kembali kota-kota Syria seperti Damaskus dan Emessa yang ditinggalkan sebelum pecah perang yarmuk.
18 September 636, Di Syam : Sejumlah pasukan di Syria yang berasal dari irak dikirim ke Irak dibawah pimpinan As’as bin Qais untuk memperkuat pasukan Sa’ad di Qadisiyah sehingga pasukan Saad mencapai 29000 orang.
18 September 636 Di Syam : Abu Ubaidah mengirim pasukan untuk menaklukan Damaskus kembali dan daerah-daerah lain yang ditinggalkan sebelum perang Yarmuk. Sementara sisanya beristirahat di Jabiya untuk memulihkan yang luka serta mengumpulkan rampsan perang, memeriksanya dan mendistibusikannuya.
Awal Oktober 636, Di Syam : Abu Ubaidah bin Jarrah menggelar rapat perang membicarakan rencana selanjutnya di Syria. Tujuan selanjutnya terbagi antara Caesarea dan Yerusalem. Abu Ubaidah melihat pentingnya kedua kota ini untuk pertahanan pasukan muslim. Karena terjadi perbedaan pendapat, maka ia menulis surat kepada khalifah Umar untuk minta petunjuk. Sebagai balasannya, Khalifah memerintahkan untuk menaklukan Yerusalem. Oleh karena itu Abu Ubaidah bergerak ke Yerusalem dengan pasukan dari Jabiya bersama dengan Khalid bin Walid.
01 November 636 Di Syam : pasukan Muslim tiba di Yerusalem dan pasukan Bizantium mundur ke dalam benteng kota. Pasukan muslim mulai mengepung kota. Pengepungan ini berlangsung selama 4 bulan tanpa henti.
16 November 636, Di Irak : Perang Qadisiyah dimulai
19 November 636, Di Irak : Pasukan Saad bin Abi Waqas berhasil mengalahkan pasukan Persia dalam perang Qadisiyah. Pangglima pasukannya Rustam, gugur dalam perang tersebut.
30 November 636, Di Irak : Sa'ad bin Abi Waqqas mulai merencanakan serangan ke Ctesiphon. Ia mereorganisasi pasukannya kedalam 5 brigade dan setiap brigade dipimpin pangglima : Zuhra bin Al-Hawiyya; Abdullah bin Muta'm; Shurahbil bin Al-Samt; Hashim b. Utba; dan Khalid bin Urfula. Semua brigade terdiri dari pasukan cavaleri. Dari Qadisiya rute ke Ctesiphon melewati Najaf; Burs; Babylon; Sura; Deir Kab; Kusa; Sabat; and Ctesiphon.
2 Desember 636, Di Irak : Brigade Zuhra bin Al-Hawiyya maju duluan dan berhasil menguasai Najaf dan tetap disana sampai brigade lain sampai ke Najaf.
3 Desember 636 Di Irak : Zuhra dengan brigadenya menyebrangi sungai Eufrat dan meneruskan ke Ctesiphon. Ia sampai di Burs ditepi barat kota Hilla yang berada dipinggir sungai Eufrat.
4 Desember 636 Di Irak : Di Burs, Pasukan Zuhra dihadang oleh pasukan Persia dibawah pimpinan Busbuhra. Dalam duel antara Zuhra dan Busbuhra, Zuhra berhasil mengalahkan Busbuhra dengan luka berat. Ketika terjadi pertem-puran antara pihak muslim dan persia, pasukan persia kalah dan lari ke Babylon. Bushbura wafat di Babylon. Dengan larinya pasukan persia, rakyat Burs menyerah kepada Zuhra. Zhura berada di Burs beberapa lama untuk mengatur administrasi. Sampai brigade muslim lainya tiba di Burs.
15 Desember 636, Di Irak : Pasukan Muslim menyebrangi sungai Eufrat dan berkemah di luar kota Babylon. Pasukan Persia yang berjumlah besar di Babylon dikomandoi oleh Feerzan, Hormuzan, Mihran dan Nakheerzan. Maka terjadilah pertempuran di Babylon. Karena tidak kompaknya pasukan Persia, maka pasukan Muslim bisa mengalahkan pasukan Persia. Mereka melarikan diri bersama jendral-jendralnya termasuk Hormuzan.
20 Desember 636 Di Irak : Ketika pasukan muslim masih di Babylon, Zuhra diperintah oleh Saad untuk mengejar pasukan persia yang lari dari Babylon. Zuhra kemudian mengejar pasukan persia tersebut dan bertemui dengan pasukan garis belakangnya di Sura. Terjadi pertempuran singkat. Tapi mereka kemudian lari ke Deir Kab.
22 Desember 636 Di Irak : Zuhra bergerak ke Deir Kab. Ternyata disana sejumlah besar pasukan persia yang dikomando Nakheerzan sudah menunggu. Terjadi pertempuran sengit. Terjadi duel antara Zubair bin Salim, anak buah Zuhra dengan Nakheerzan. Dalam duel tersebut Nakheerzan kalah dan terbunuh. Pertempuran berlanjut terus, Ketika Jabir bin Abdullah berhasil menguasai jembatan di barisan belakang pasukan Persiam, beliau berteriak Allahu Akbar, sehingga pasukan persia kehilangan nyali dan banyak melarikan diri. Akhirnua Deir Kab berhasil dikuasai pihak muslim.
1 Januari 637 Di Irak : Pergerakan pasukan Muslim dibawah pimpinan Zuhra mencapai Kusa yang berjarak 10 mil dari Ctesiphon. Disini terdapat detasemen pasukan persia yang dipimpin Shahryar yang berbadan besar. Terjadi pertempuran lagi. Dalam duel antara Shahryar dan Nail, Nail akhirnya berhasil membunuh pangglima itu. Melihat pangglimanya kalah dan mati, pasukan persia menjadi kehilangan semangat dan lari ke Ctsesiphon sehingga kota Kusa berhasil dikuasai. Disini Zuhra tinggal di Kusa sampai pasukan muslim la\innya tiba. Kusa merupakan kota bersejarah karena disinilah Namruz memenjarakan dan membakar nabi ibrahim. Saad menulis kemenangan ini ke pada Umar
14 Januari 637, Di Irak : Zuhra bersama pasukannya tiba di Sabat yang berjarak 4 mil dari Ctesiphon. Kepala daerah tersebut menawarkan kesetiaan kepada pasukan Muslim dan diberi perlindungan oleh Zuhra. Dengan demikian seluruh daerah yang menuju gerbang kota Ctesiphon berada dalam kekuasaan Muslim.
16 January 637, Di Irak : Pasukan Muslim mulai mengepung kota Bahrseer, salah satu dari kota Madain (Ctesiphon). Pengepungan ini berlangsung selama dua bulan. Logistik dari luar sudah diblokade, sehingga keadaan dalam benteng menjadi buruk.
01 Maret 637, Di Syam : Di Yerusalem, Patriarch Yerusalem Sophronius, menawarkan penyerahan kota dan bersedia membayat Jizya, tetapi dengan syarat Khalifah Umar sendiri yang datang dan menandatangai pakta perjanjian dengannya untuk menerima penyerahan kota ini.
16 Maret 637, Di Irak : Di Bahrseer, Pasukan Persia berusaha membuka kepungan pasukan Muslim. Mereka melepaskan Singa yang terlatih, sehingga merusak barisan kaum muslimin. Tapi untunglah Hashim bin Utbah, pangglima barisan depan, berhasil membunuh singa tersebut dengan pedangnya. Saad bin Waqas, pangglima pasukan mencium kening Hashim sebagai kekaguman atas kepahlawannya. Pangglima pasukan Persia mengajak duel. Dan diterima oleh Zuhra bin Al Hawiyya. Dalam duel tersebut sang Pangglima berhasil di bunuh. Kemudian pecahlah pertempuran. Dalam pertempuran tersebut sebuah panah mengenai Zuhra yang mengakibatkan kematiannya.
Ketika pertempuran berhenti, utusan Persia datang keperkemahan muslim menyampaikan pesan Kisra yang menyebutkan bahwa Rajanya setuju berdamai dengan syarat Sungai Tigris menjadi perbatasan antara persia dan muslim. Tapi hal ini ditolak oleh Saad dan berkata bahwa mereka berperang bukan demi tanah tapi demi Allah. Dan ini menambahkan jika Kisra Persia perdamaian bisa diterima jika menerima islam atau membayar jizya.
17 Maret 637, Di Irak : Ketika fajar menyingsing, pasukan persia sudah menyingkir. Kota Bahrseer sudah dikosongkan. Pasukan Persia menghancurkan semua jembatan yang berada disungai tigris. Pasukan muslim menguasai Bahrseer, Kota sudah kosong. Semua yang ada telah menyebrang ke Ctesiphon..
19 Maret 637, Di Irak : Dengan menyebrangi sungai tigris yang saat itu masih banjir, Pasukan muslim bergerak ke kota Ctesiphon. Pasukan persia yang melihat kejadian itu hilang semangatnya. Mereka menyerah. Kota Madain (ctesiphon) berhasil ditaklukan. Kisra Yazdigird III melarikan diri ke Hulwan. Seperlima rampasan perang dikirim ke madinah. Pasukan Persia yang melarikan diri mengumpulkan kekuatan di Jalaula, Mosul dan Tikrit. Dan dari Tikrit siap mengancam pasukan muslimin.Saad bin Abi Waqas melaporkan hal ini kepada Khalifah Umar minta petunjuk selanjutnya..
01 April 637 Di Syam : Khalifah Umar tiba di Jabiya, dimana ia bertemu dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, Khalid bin Walid and Yazid bin Abu Sufyan. Amr bin A'as masih tinggal untuk memimpin pengepungan Yerusalem,
02 April 637, Di Syam : Perjanjian perdamaian ditandatangani oleh Khalifah Umar dan disaksikan oleh Khalid ibn Walid, Amr ibn al-A'as, Abdur Rahman bin Awf dan Muawiyah. Yerusalem diserahkan kepada Khalifah. 10 hari kemudian Khalifah kembali ke Madinah.
03 April 637 Penyusunan Kalender Hijriyah berdasarkan peristiwa Hijrahnya Nabi ke Medinah atas usulan Ali bin Abi Thalib
12 April 637 Di Syam : Sesuai instruksi Khalifah Umar bin Khatab, Yazid ibn Abu Sufyan segera menuju Caesarea dan sekali lagi mengepung kota pelabuhan itu. Sedangkan Amr ibn al-A'as dan Shurahbil ibn Hassana bergerak untuk menguasai kembali Palestina dan Yordania. Abu Ubaidah ibn al-Jarrah dan Khalid ibn Walid, dengan 17,000 pasukan meninggalkan Yerusalem untuk menaklukan seluruh Syria utara yang berakhir dengan penaklukan Antiokia pada tahun 638 dan Pegunungan Taurus di Anatolia.
13 April 637 Di Syam : Abu Ubaidah bergerak menuju Damaskus yang terlah berada ditangan muslim kemudian ke Emessa yang menyambut kedatangannya. Tujuan selanjutnya adalah Kinasrin
22 April 637, Di Madinah : Khalifah Umar mengirimkan instruksi kepada Saad : Untuk mengirim Hashim bin Utbah untuk menaklukan Jalula, dan Abdullah b. Mut'am untuk menaklukan Tikrit dan Mosul.
29 April 637 Di Irak : Hashim bin Utbah bergerak dengan 12 ribu pasukan dari Ctesiphon dan tiba di Jalaula dan menjumpai kota tersebut berpertahanan kuat dengan pasukan persia. Hashim mulai mengepung kota Jalula. Dan berlangsung 7 bulan.
01 Mei 637, Di Irak : Abdullah b. Mut'am bergerak dari Ctesiphon dengan kekuatan 500 pasukan dan tiba di Tikrit. Dengan bantuan penduduk arab lokal, pasukan ini berhasil menguasai Tikrit, sementara pasukan Persia melarikan diri.
3 Mei 637, Di Irak : Abdullah bin Mut’am mengirim pasukan dibawah pimpinan Rabi bin Al-Akfal ke Mosul. Ketika Pasukan Muslim tiba, Pasukan Persia tidak dapat menahan serangan muslim dan memilih menyerah dan bersedia membayar Jizya. Oleh karena itu Abdullah juga pergi ke Mosul, dan menyusun administrasi pemerintahan di sana. Setelah semuanya beres, ia kembali ke Ctesiphon dan meninggalkan pasukan di Mosul dibawah pimpinan Muslim bin Abdullah.
01 Juni 637 Di Syam : Pasukan Khalid bin Walid mencapai Hazir, 3 mil sebelah timur Kinasrin. Disini pasukan itu diserang Bizantium yang dipimpin Meenas. Akan tetapi pasukan gerak cepat kaum Muslim berhasil mengalahkan pasukan Bizantium.
03 Juni 637 Di Syam : Khalid bin Walid mencapai Kinasrin. Penduduk Kinasrin segera menyerah dan bersedia membayar jizyah. Beberapa hari kemudian, Abu Ubaidah datang dan bergabung dengan Khalid di Kinasrin. Merka merencanakan untuk menyerang Aleppo.
02 Juli 637 Di Syam : Pasukan Muslim dibawah pimpinan Khalid bin Walid mulai mengepung kota Aleppo. Pasukan Bizantium yang dipimpin Joachim memutuskan untuk bertahan dan berharap mendapat balabantuan dari Kaisar Heraklius. Pengepungan ini berlangung selama 4 bulan.
02 Oktober 637 Di Syam : Pasukan Bizantium di Aleppo menyerah kepa-da kaum muslimin. Komandannya, Joachim, masuk islam dan bergabung dengan pasukan Khalid bin Walid. Sementara pasukan bizantium lainnya diijinkan pergi dengan damai.
7 Oktober 637, Di Syam : Abu Ubaidah mengirim pasukan dibawah pimpinan Malik bin Ashtar untuk menaklukan kota Azaz. Malik dibantu oleh Joachim. Dan Perjanjain perdamaian pun ditandatangani dengan penduduk lokal. Setelah itu kembali ke Aleppo. Tujuan penaklukan ini untuk meyakinkan bahwa tidak ada kekuatan bizantium yang berada di utara Aleppo.
15 Oktober 637. Di Syam : Malik bin Ashtar bergabung kembali dengan pasukan Abu Ubaidah. Mereka kemudian bergerak kebarat untuk menaklukan Antiokia.
26 Oktober 637, Di Syam : Dalam Perang Jembatan Besi didekat sungai Orontes, Pasukan Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah berhasil mengalahkan pasukan Bizantium. Sisa pasukan Bizantium melarikan diri ke Antiokia.
30 Oktober 637 Di Syam : Pasukan Muslim bergerak ke Antiokia dan mengepung kota tersebut. Antiokia segera menyerah. Dengan demikian Kota Antiokia berhasil dikuasai.
02 November 637, Di Syam : Pasukan Muslim bergerak ke selatan Laut Mediterania dan menaklukan Latakiah, Jablah dan Tartus. Dengan demikian daerah barat laut syria telah bersih dari musuh.
05 November 637, Di Syam : Pasukan muslim dikirim untuk menaklukan sisa daerah syria utara.
07 November 637, Di Syam : Pasukan Khalid bin Walid dikirim dengan pasukan Kavalerinya ke arah timur sampai ke Sungai Eufrat sekitar Munbij, tetapi tidak menjumpai perlawanan berarti.
November 637 Di Irak : Di Jalula, pasukan Persia yang mendapat bala bantuan dari Hulwan menyerang pasukan Hashim. Segera peperangan sengit terjadi. Tapi akhirnya pasukan Muslim berhasil mengalahkan pasukan persia. Pasukan persia melarikan diri ke Khaneqeen. Penduduk kota Jalula menyerah dan bersedia membayar jizya. Rampasan perang yang didapat sangat besar. Seperlimanya dikirim ke Madinah. Kaisar Yazdgerd III pergi ke Rayy, setelah itu ke Merv dan mendirikan ibu kota disana untuk merencanakan pembalasan.
Dengan dikuasainya Jalaula Tikrit dan Mosul, Saerah Suwad utara menjadi tenang berada dalam kekuasaan muslim.
Desember 637, Di Irak : Hashim mengirim pasukan dibawah pimpinan Qaqaa b. Amr mengejar pasukan persia ke Khaneqeen berjarak 15 mil dari Jalula. Hashim meninggalkan garnisun pasukan sebaynak 4,000 orang dibawah pimpinan Jarir b. Abdullah di Jalaula untuk menjaga serangan dari utara. De-ngan sisa pasukan yang ada ia kembali ke Ctesiphon. Di Ctesiphon ia melapor-kan situasi Jalula dan sekitarnya kepada Saad. Saad kemudian mengambil alih kampanye perang dan mengirim ekspedisi ke daerah-daerah sekitar Jalula yang akan mengancam pasukan muslim
Desember 637 Di Irak : Pasukan Qa’qa berhasil mengalahkan pasukan Persia di Khaniqin setelah sebelumnya dalam duel berhasil membunuh pang-glima pasukan persia, Mehran. Kota Khaneqeen berhasil dikuasai, pasukan persia lari ke Hulwan. Qa’qa kemudian mengejar pasukan tersebut sampai ke Hulwan dan mengepung kota Hulwan
28 Desember 637 Di Irak : Pasukan Muslim dibawah pimpinan Amr b. Malik tiba di Heet dan mengepung kota tersebut. Berhubung kota tersebut cukup kuat dan mendapat logistik dari kota Qirqasia, maka Amr bin Malik memu-tuskan untuk menaklukan kota Qirqasia lebih dahulu. Ia bersama separuh pasu-kannya bergerak ke Qirqasia yang akhirnya me menyerah karena serangan mendadak.
Awal Januari 638, Di Syam : Daerah syria utara telah berada dalam kekua-saan muslim seluruhnya.
638 Di Madinah : Umar memerintahkan untuk memperluas dan mereno-vasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah
Januari 638, Di Irak : Pasukan Qa’qa berhasil mengalahkan pasukan persia di Hulwan. Hulwan berhasil dikuasai. Qa’qa melaporkan kemenangan ini kepada Sa’ad dan menunggu instruksi lanjut untuk mengejar pasukan persia sampai kedalam daratan persia sendiri. Saad melaporkan hal ini ke pada Umar. Umar menginstruksikan jangan mengejar pasukan persia malahan ia menulis mengha-rapkan adanya gunung api antara wilayah muslim dan persia.
14 Januari 638, Di Irak : Amr bin Malik kembali ke Heet dan menginformasikan jatuhnya Qirqasia kepada penduduk Heet dan menyerukan untuk menyerah. Penduduk Heet bersedia menyerah dan membayar Jizya. Sementara pasukan persia melarikan diri dari Heet. Dengan demikian Heet berhasi dikuasai. Dengan dikuasainya Qirqassia dan Heet, Lembah Eufrat berhasil ditenangkan. Amr kemudian kembali ke Ctesiphon setelah sebeluumnya meninggalkan garnisun pasukan di Qirqasia dan Heet.
Januari 638[3], Di Irak Selatan : Pasukan muslim dibawah pimpinan Zarrar bergerak ke Masabzan. Di Hindaf terjadi pertempuran. Pasukan muslim berhasil menangkap Azeen, sang pangglima perangnya. Dengan tertangkapnya pang-glima itu, pasukan persia menyerah. Dari Hindaf pasukan muslim bergerak ke Sirwan. Kota tersebut berhasil ditaklukan. Pasukan persianya lari ke perbukitan. Zarar tinggal di Sirwan sebagai Gubernur dan menyusun administrasi peme-rintahan. Ketika Kufa didirikan ia pindah ke kufa dan meninggalkan ibnu Hazil Asadi sebagai penggantinya di Masabzan
Februrari 638 Di Irak : Daerah Suwad, Lembah sungai Tigris dan Eufrat secara sempurna berada dalam kekuasaan muslimin. Orang-oran persia sudah kembali ke daerah perbatasannya.
Maret 638, Di Irak : Berhubung cuaca di Ctesiphon tidak cocok untuk orang-orang arab yang mengakibatkan menurunnya kesehatan kaum muslimin, maka Khalifah Umar bin Khatab memerintahkan untuk membangun kota baru yang sesuai dengan ikilim arab. Akhirnya didirikanlah kota Kufah, dan Basrah. Pendirian ini berlangsung selama setahuin
April 638, Bencana kelaparan mewabah di Arabia. Khalifah umar bin Khatab minta bantuan dari propinsi-proinsi untuk mengirimkan makanan. Keadaan ini disebut dengan "Tahun Paceklik." Oleh karena itu Khalifah Umar meminta Abbas untuk memimpin shalat lstisqa' dan memohon kepada Allah untuk menurunkan hujan
15 Juli 638, Di Syam : Pasukan Arab Kristen yang pro Bizantium mengepung kota Emessa. Pasukan muslim memilih starategi bertahan. Semua pasukan di Suyria utara dipanggil ke Emessa.
01 Agustus 638 Di Syam : Pasukan Arab Kristen mundur dari Emmessa, ketika, atas perintah Khalifah Umar, Pasukan Muslim dari Irak menyerang Jazirah.
03 Agustus 638 Di Syam : Pasukan bagian belakang pengepung kota Em-messa diserang Khalid bin Walid yang menimbulkan kerusakan pasukan musuh.
15 Agustus 638, Khalifah Umar memerintahkan penaklukan seluruh Jazira.
10 September 638, Bagian barat Jazira sudah ditaklukan. Abu Ubaidah menulis surat kepada Khalifah Umar meminta Ayadh bin Ghanam, yang beroperasi di Jazirah barat unutuk diletakan dibawah komandonya yang akan digunakan untuk menyerang perbatasan utara. Umar setuju dan Ayad bergerak ke Emessa dengan sebagian pasukan muslim yang dikirim dari irak ke Jazira.
15 September 638, Seluruh Jazira sudah dikuasai.
Oktober 638, Di Irak : Hormuzan, pangglima Persia dalam Perang Qadisiyah, menyerang Irak. Saad menurut instruksi Umar memembalas serangan dibantu dengan Utbah ibn Ghazwan dan Nouman ibn Muqarin dengan menyerang Ahwaz.
November 638, Di Irak : Perjanjian perdamaian ditandatangani antara Hormuzan, penguasa Ahwaz dengan Utba b. Ghazwan, gubernur Basrah setelah sebelumnya kedua pasukan pimpinan tersebut berseteru. Isi perjanjian itu, Hormuzan bersedia membayar Jizya dan daerah Ahwaz menjadi dibawah kekuasaan kaum muslimin. Dengan demikian sekarang kaum muslimim menguasai daerah Tigris, Eufrat dan Karun.
November 638, Di Syam : Abu Ubaidah mengirim pasukan dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Ayadh untuk menyerang Bizantium di Anatolia sepanjang Tarsus. Tujuan Khalid adalah Marash, kota yang terletak di kaki pegunungan Taurus. Setibanya disana mereka mengepung kota Marash yang didalamnya terdapat pasukan Bizantium yang masih berharap pertolongan dari Heraklius
01 Desember 638, Di Syam : Pasukan Bizantium yang di Marash me-nyerah kepada pasukan Muslim dan bersedia membayar Jizyah. Khalid kemu-dian kembali ke Kinasrin
10 Desember 638. Di Syam : Khalid bin Walid dipecat dari kemiliteran oleh Khalifah Umar bin Khatab.
20 Desember 638, Di Syam : Terjadi wabah Amwas yang menyerang daerah Syria, Mesir dan Irak yang banyak memakan korban jiwa.
Januari 639, Di Irak : Karena merasa cukup kuat dan mendapat bantuan dari Persia, Hormuzan memberontak kepada kaum Muslimin, Khalifah Umar mengirim Abu Musa Al Asy’ari, gubernur Basra yang menggantikan Utbah yang wafat untuk menaklukan Ahwaz. Hormuzan dikalahkan dan minta damai. Umar menerima permintaan tersebut dan Hormuzan tetap sebagai vasal muslim.
Feburari 639. Di Syam : Khalifah Umar pergi ke Syria begitu mendengar wabah menyerbar. Amr bin Ash menemui Umar dan minta ijin untuk mena-klukan mesir. Namun beliau kembali lagi ke Madinah.
Maret 639 Di Syam : Gubernur Abu Ubaida, wafat karena wabah. Beliau kemudian digantikan oleh Muadz bin Jabal, yang tak lama kemudian wafat karena wabah yang sama. Pangglima lainnya yang wafat karena wabah iut adalah Shuhrabil b. Hasana dan Yazid bin Abi Sufyan. Amr bin Al-Aas kemudian ditunjuk sebagai Pangglima Besar di Syria
Desember 639[4] Di Syam : Khalifah Umar mengunjungi Syria untuk mereorganisasikan struktur permerintahan dan militernya yang terkena pengaruh berat atas meninggalnya gubernur dan pangglimanya yang andal seperti Abu Ubaidah ibn al-Jarrah. Amr ibn al-Aas, yang menjabat gubernur Palestina dan gubernur Syam ad interim menemui khalifah untuk minta ijin menaklukan mesir.
01 Desember 639, Amr berangkat ke Mesir dengan 4000 pasukan.
31 Desember 639 Di Mesir : Pasukan Muslim sampai di kota benteng Pelusium (Farma) yang terdapat garnisun Bizantium. Oleh karena itu pasukan muslim mengepung kota. Pengepungan ini berlangsung selama dua bulan
640 Di Syam : Kota Caesaria jatuh ketangan muslim, dengan demikian seluruh Syam jatuh ketangan muslim.
640[5] Musa bin Nusair (640-716) dilahirkan di Syria. Kelak ia menaklukan Afrika utara.
Februari 640 Di Mesir : Kota Felusium jatuh ketangan kaum muslimin. Pasukan muslim yang dipimpin Useifa ibn Wala menyrang bentaeng dan kota ditaklukan. Armanousa, putri Cirus yang melawan kaum muslim di Pelusium ditawan. Dan dikirim ke ayahnya di benteng Babylon. Setelah jatuhnya Pelu-sium, pasukan muslim bergerak ke Bilbeis 40 mil dari Memphis.
Maret 640 Di Mesir : Pasukan muslim tiba di Bilbeis dan mengepung kota itu. Pengepungan berlangsung 1 bulan
31 Maret 640. Di Mesir : Pendduduk Bilebeis menyerah.
Mei 640 Di Mesir : Pasukan Muslim tiba didepan kota Babylon, dan mulai mengepung benteng tersebut. Pengepungan ini berlangsung selama dua bulan
Juli 640, Di Mesir : Amr menulis surat kepada Khalifah meminta bala bantuan. Sebelum surat itu sampai ketangan Khalifah, ternyata Khalifah Umar telah mengirimkan balabantuan sebanyak 4000 orang yang terdiri veteran penaklukan syria. Tapi dengan balabantuan ini Amr belum mendapat kesuk-sesan. Sampai balabantuan dibawah pimpinan Zubair bin Awaam datang.
Agustus 640, Di Madiah : Umar mengumpulkan 4000 orang untuk pasu-kan elit yang akan dikirim ke mesir dan terbagi 4 brigade dan brigade-brigade itu dipimpin komandannya masing-masing. Zubair bin Awwam ditunjuk sebagai pangglima tertinggi. Komandan lainnya adalah Miqdad bin Al-Aswad; Ubaida bin As-Samit, dan Kharija bin Huzafa.
September 640, Di Mesir : Bala bantuan tiba di Babylon. Total kekuatan muslim sekarang mencapai 12 ribu orang. 10 Mil dari Babylon adalah kota Heliopolis. Untuk mengatisipasi bahaya serangan bizantium dari Heliopolis maka Detaseman Amr dan Zubair bergerak ke Heliopolis Kota Heliopolis berhasil dikuasai. Amr dan Zubair kemudian kembali ke Babylon
November 640 Di Irak : Hormuzan memberontak lagi setelah mendapat bantuan pasukan dari Kisra Yazdegerd III. Pasukannya terpusat di Tustar, sebelah utara Ahwaz. Khalifah Umar mengirim gubernur Kufa, Ammar bin Yasir, Gurbernur basrah, Abu Musa dan Numan bin Muqarrin untuk menaklukan Tustar. Hormuzan dikalahkan, ditangkap dan dikirim ke Madinah untuk menghadap Khalifah Umar. Disini ia masuk islam dan menjadi penasehat Umar yang berguna untuk penaklukan Persia.
Desember 640, Di Irak : Dari Tustar, Abu Musa bergerak ke kota Sus yang terletak di barat daya kota Tustar, dan mulai mengepung kota tersebut.
20 Desember 640 Di Mesir : Setelah semua negosiasi gagal, dimalam tanpa cahaya bulan, Zubair dan anak buahnya mendaki dinding kota Babylon, membunuh penjaganya dan membuka pintu gerbang benteng sehingga pasukan muslim bisa masuk.
21 Desember 640 Di Mesir : Kota Babylon berhasil dikuasai muslim. Tetapi Theodorus dan pasukannya telah menyingkir ke pulau Rauda dimalam sebelumnya.
22 Desember 640, Di Mesir : Cyrus of Alexandria masuk kota Babylon dan menandatangai perjanjian perdamaian dengan kaum muslim dan setuju untuk membayar Jizyah.
Januari 641 Di Irak : Abu Musa berhasil menaklukan kota Sus. Dari sini beliau memngirim surat kepada Khalifah Umar untuk menaklukan ke Junde Sabur. Khalifah menginstruksikan untuk mengirim Aswad bin Rabee'a ke Junde Sabur. Aswad bin Rabi’ah segera bergerak ke Junde Sabur
01 Februari 641, Di Irak : Setelah pengepungan beberapa minggu, penduduk Junde Sabur menyerah kepada kaum muslimin dan bersedia membayar Jijyah. Dengan demikiaan Daerah Khuzistan berhasil sepenuhnya dikontrol kaum muslimin.
04 Feburari 641 Di Mesir : Amr memberangkatkan pasukannya dari Babylon ke kota Alexandria.
06 Februari 641, Di Mesir : Pasukan Amr bin Ash dihadang oleh pasukan bizantium di Tarnut di tepi barat sungai nil. Terjadi pertempuran sengit. Pasukan ini Bizantium dihancurkan. Amr bin Ash mengirim pasukan garis depan yang merupakan pasukan kavaleri untuk duluan pergi untuk mengamankan jalanan dari detasemen bizantium
09 Februari 641 Di Mesir : Pasukan garis depan Muslim tiba di Shareek, pasukan bizantiuym yang lari dari Tarnut kemarin, bergabung dengan pasukan Sharekk dan membentuk pertahanan kuat dan menyerang pergerakan pasukan muslim.
10 Februari 641 Di Mesir : Pasukan Bizantium dapat menghancurkan pasukan depan muslim.
11 Februari 641[6] Di Mesir : Ketika pasukan utama muslim tiba, pasukan bizantium melarikan diri. Dititik ini pangglima Amr bin Ash memutuskan tidak mengirim pasukan depan dan seluruh pasukan pergerak.
13 Februari 641 Di Mesir : Pasukan muslim mencapai Sulteis dimana mereka mengalahkan pasukan bizantium. Pasukan bizantium lari ke Alexandria.
15 Februari Di Mesir : 641 Pasukan muslim beristirahat di Sulteis sehari dan kemudian bergerak ke Alexandria. Alexandria masih dua hari dari Sulteis.
17 Februari 641 Di Mesir : Pasukan muslim tiba di Kirayun, 12 mil dari Alexandria. Disini pergerakan pasukan muslim dihadang dengan pasukan bizantium sebesar 20 ribu orang. Strategi Bizantium adalah pasukan muslim harus dipukul mundur sebelum sampat di Alexandria atau diperlemah. Dua pasu-kan saling menunggu. Pertempuran yang terjadi masih tidak pasti. Hal ini berlangsung 10 hari.
27 Februari 641 Di Mesir : Pasukan muslim meluncurkan serangan hebat. Pasukan Bizantium kalah dan lari ke Alexandria.. Dengan demikian jalan ke Alexadnria telah bersih. Dan dari Kirayun mereka bergera ke Alexandria.
01 Maret 641, Di Mesir : Pasukan muslim tiba di Alexandria dan mengepung kota berbenteng kuat tersebut. Kota tersebut punya akses langsung ke laut dan melalui laut mendapat nbantuan langusng dari Konstantinple baik pasukan maupun bahan makanan. Berdasarkan penyerlidikan Amr, ia merasa Alexandria akan sulit ditaklukan. Mereka mempunyai pertahanan kuat, Didinding kota terdapat katapel yang siap melontarkan peluru ke puihak muslim. Hal ini jelas merugikan posisi kaum muslimin. Oleh karena itu Amr bin ash menarik mundur pasukannya dan berkemah di area luar jangkauan katapel. Perang jarak jauh dimulai. Ketika pasukan muslim mendekati kota mereka diserang peluiru. Ketika bizantium berlayar dari benteng mereka, selalu dipukul mundur kaum muslim. Terlebih datang berita bahwa Heraklius mengumpulkan balabantuan bersar di Constantinople. Ia bermaksud bergerak mengepalai balabantuan ke Alexandria. Sebelum rencananya teralisir ia wafat. Bala bantuan yang terkumpul di Konstantinopel pun bubar dan tidak ada pertolongan untuk Alexandria. Hal ini melemahkan semangat pasukan bizantium. Pengepungan berlangsung 6 bulan. Dan di Madinah Kahlifah Umar tidak sabar. Maka ia kirim surat ke Amr bin Ash dan memerintahkan Ubada dijadikan pangglima dan segera meluncurkan serangan ke benteng Alexandria.
September 641[7] Di Mesir : Serangan Ubada sukses dan Alexandria ditak-lukan oleh Muslim. Ribuan pasukan Bizantium terbunuh atau tertangkap sedang-kan yang lainnya melarikan diri ke Konstantinople dengan kapal yang tertambat di pelabuhan.
Oktober 641, Di Mesir : Amr bin Ash mulai membangun kota Fustat untuk ibu kota Mesir menggantikan Alexandria.
November 641, Di Persia : Yazdagird III mengumpulkan 60 ribu pasukan ke Nihawand, bersiap-siap menaklukan daerah muslim di Irak. Gubernur Kufah, Ammar ibn Yasir, mengirim surat melaporkan kejadian ini kepada Khalifah Umar bin Khatab.
Desember 641 Di Irak : Huzhaifah bin Yaman ditunjuk sebagai Pangglima Pasukan di Kufa dan diperintahkan ke Nihawand. Gubernur Basrah, Abu Musa juga bergerak ke Nihawan. Numan bin Muqarrin bergerak dari Ctesiphon ke Nihawan. Umar bin Khatab memutuskan untuk memimpin pasukan di Madinah. Tetapi keputusan ini tidak diterima oleh Majelis Shura, oleh karena itu ia menunjuk Mughira ibn Shuba, sebagai pangglima pasukan yang terkonsentrasi di Madinah dan menunjuk Nouman ibn Muqarrin sebagai komandan tertuinggi pasukan Muslim di Nihawand
21 Desember 641. Di Persia : Terjadi pertempuiran Nihawan. Nu’man wafat dalam pertempuran, komando dipeganrg oleh Huzaifah bin Yaman. Akhirnya pasukan muslim berhasil mengalahkan pasukan persia.
642 Khalid bin Walid (592-642) wafat di Emessa
642 Kaum Yahudi pindah dari Arab ke Syiria karena Khalifah Umar mengusir orang­-orang Yahudi dari Khaibar dan Najran lalu membagi-bagikan Khaibar dan Wadi al-Qura kepada kaum muslimin.
Januari 642, Di Persia : Huzaifa menugaskan Naim bin Muqarrin dan Qa'-qaa bin Amr untuk mengejar pasukan persia ke Hamadan. Ketika pasukan Persia mengetahui bahwa pasukan muslim mengejarnya, mereka langsung pergi dari Hamadan sebelum pasukan Muslim tiba. Hamadan kemudian menyerah dan bersedia membayar Jizya. Khusrau Shanum langsung ditunjuk sebagai gubernur Hamadan dibawah kontrol negara muslim. Rampasan perang dikirim ke Madinah
01 Februari 642, Di Madinah : Berdasarkan petunjuk dari Hormuzan, Khalifah Umar memutuskan untuk menaklukan Isfahan. Beliau menunujuk Abdullah ibn Uthban, sebagai pangglima untuk menaklukan Isfahan.
07 Februari 642 , Di Persia : Dari Nihawan, Abdullah bergerak ke Hama-dan, setelah itu ke timurlaut ke Rayy yang berjarak 200 mil dari Hamadan dan mengepung kota itu dan akhirnya menyerah..Setelah Rayy ditaklukan, Abdullah bergerak ke timur laut menuju Isfahan dan mengepung kota tersebut. Disini ia mendapat balabantuan dari Basrah dan Kufa dibawah pimpinan Abu Musa As Ashari dan Ahnaf bin Qais
Maret 642 Di Persia : Kota Isfahan menyerah. Dari Isfahan Abdullah bergerak ke timurlaut menuju Qom yang menyerah tanpa perlawanan berarti.
01 April 642, Di Persia : Kota Hamadan dan Rayy memberontak, Umar mengirim Naim bin Muqarrin untuk memadamkan pemberontakan itu.Naim bergerak ke Hamadan dari Isfahan, pertempuran berdarah terjadi dan kota Hamadan ditaklukan kembali kaum muslimin
07 April 642, Di Persia : Naim bergerak menuju Rayy, dan kota tersebut berhasil ditaklukan kembali. Penduduknya bersedia menyerah dan membayar jijya.
Mei 642 Di Persia : Dari kota Rayy, Naim mengirim adiknya, Suwaid bin Muqarin, ke propinsi Tabaristan. Disana ia menaklukan Qumas, Jurjan, Dehis-tan dan Amol tanpa perlawanan berarti. Dengan demikian seluruh Tabaristan berada dalam kekuasaan muslim.
Mei 642 Di Persia : Dari Basrah, Maja’a bin Mas’ud bergerak ke Tawwaj dan disini pasukan persia dikalahkan.
Juni 642 Di Persia : Dari Tawaj, Maja’a bergerak ke Sabur dan mengepung benteng kota tersebut beberapa minggu yang kemudian menyerah dan bersedia membayar jizyah. Bala bantuan datang dibawah pimpinan Usman bin Abi AlAsh yang mengambil alih komando pasukan dari Maja’a.
Juni 642, Di Mesir : Amr bin Al-Aas mengirim Ekspedisi ke Nubia diba-wah komando sepupunya Uqba bin Nafi. Misi ini gagal
Juli 642, Di Mesir : Sungai nil tidak meluap.
Juli 642, Di Persia : Pasukan Usman bin Abi Al Ash bergerak dari Tawwaj ke Shiraz yang kemudian menyerah dengan damai.
Agustus 642 Di Persia : Dari Shiraz Usman bergerak ke kota Persepolis yang berjarak 35 mil ke utara dan mengepung kota tersebut beberapa mninggu. Dan kota tersebut akhirnya menyerah. Disini komando pasukan dialihkan ke Sariyah bin Zuneim
September 642 Di Persia : Sariyah bin Zuneim bergerak dari Persepolis ke ke tenggara dan menaklukan kota Fasa
September 642, Di Mesir : Umar mengirim surat kepada Amr untuk melemparkan suratnya ke sungai nil. Sungai nil pun meluap lagi
September 642 Di Mesir : Setelah kegagalan Kampanye Nubia di selatan, Amr bin Al-Aas memutuskan utnuk bergerak ke Barat. Ia pimpin pasukannya sendiri.
Oktober 642 Sariyah bin Zuneim menaklukan Darab yang berjarak 60 mil dari Fasa. Dengan demikian penaklukan Fars sempurna diakhir tahun 642.
Oktober 642 Di Afrika : Pasukan Amr bin Ash mencapai kota Pentapolis. Penduduk disana menyerah dan bersedia membayar jizyah. Kota tersebut dinamakan Burqa. Amr tinggal beberapa lama untuk menyusun administrasi.
November 642 Dari Burqa, Uqba bin Nafi dikirim untuk mengepalai pasukan untuk mengambil alih Fezzan. Uqba bergerak ke Zaweela, ibu kota Fezzan. Tanpa adanya perlawanan yang berarti, seluruh distrik Fezzan (sekarang barat laut libya) dikuasai muslim. Setelah invas fezzan, Uqba kembali ke Burqa
643 Hasan Basri (643-728 M) dilahirkan
643 Di Persia : Asim ibn Amr, veteran perang Qadisiyyah dan Nihawand ditunjuk untuk menaklukan Sistan. Asim bergerak dari Basrah dan melewati Fars dan mengambil alih komando pasukan muslim di Fars dan bergerak mema-suki Sistan. Tanpa perlawanan, penduduknya menyerah. Asim kemudian menca-pai Zaranj, 250 mil dari Kandahar, dan mengepung kota itu beberapa bulan. Dalam pertempuran sengit, pasukan persia dan penduduk kota di kalahkan. Dengan menyerahnya kota Zaranj, Sistan menjadi wilayah kekuasaan Islam.
Maret 643 Di Afrika : Amr bin Ash bergerak kebarat Burqa. Mereka sampai di Tripoli dan mengepung kota.
April 643 Di Afrika : Kota Tripoli berhasil dikuasai. Dari Tripoli, Amr mengirim pasukan ke Sabrata, 40 mil dari Tripoli. Penduduk disana menyerah dan bersedia membayar Jizya. Dari Tripoli Amr mengirimkan laporan kepada Khalifah Umar dan minta ijin untuk penaklukan selanjutnya, tetapi ditolak Khalifah Umar.
Juli 643. Di Azerbaijan : Huzaifa bin Yaman bergerak dari Rayy ke Zanjan dan berhasil menaklukan kota benteng tersebut setelah mengalahkan pasukan persia.
Agustus 643 Di Azerbaijan : Dari Zanjan, Huzaifa bergerak ke Ardabil yang kemudian menyerah secara damai
September 643 Di Azerbaijan : Dari Ardabil, Huzaifah melanjutkan perge-rakannya ke utara sepanjang pesisir barat Laut Kaspia dan menaklukan kota Bab dengan kekuatan. Dititik ini, Huzaifah dipanggil Kalifah Umar. Bukair ibn Abdullah dan Utba ibn Farqad menggantikannya.
September 643 Di Persia : Suhail ibn Adi bergerak dari Basrah, melalui Shiraz dan Persepolis dan kemudian bergabung dengan pasukan Muslim lainnya untuk menyerang Kerman yang kemudian berhasil ditundukkan setelah pertem-puran sengit dengan pasukan lokal.
Oktober 643 Di Azerbaijan : Bukair bergerak keutara sepanjang pesisir barat laut kaspia sedangkan Utbah bergerak langsung ke jantung wilayah Azerbaijan.
Oktober 643 Di Persia : Suhail bin Adi bergerak ketimur Kerrman yaitu kota Makran (sekarang wilayah Pakistan) dan merupakan wilayah raja Hindu Raja Rasil yang juga merupakan vasal dari Imperium Sasaniyah Persia.
November 643 Di Azerbaijan : Pasukan Bukair ibn Abdullah dihadang sejumlah besar pasukan persia dipimpin Isandir. Dalam pertempuran sengit Isandir dikalahkan dan ditawan. Untuk menyelamatkan jiwanya, isandir setuju menyerahkan wilayahnya di ajerbaizan dan mengajak yang lainnya untuk menyeraha dalam kekuasaan muslim.
November 643 Di Sind : Raja Rasil mengumpulkan pasukan besar dari Sind dan Baluchistan untuk menahan lajunya pergerakan muslimin.
Desember 643 Suhail mendapat balabantuan dari Usman ibn Abi Al Aas yang datang dari Persepolis, dan Hakam ibn Amr dari Basrah.
Desember 643 Di Azerbaijan : Uthba ibn Farqad mengalahkan Bahram, saudara Isandir. Ia juga mengajak damai. Sebuah perjanjian perdamaian ditanda-tangani yang mana Azerbaijan diserahkan kepada Khalifah Umar sebagai syarat membayar Jizya.
Desember 643 Bukair ibn Abdullah, yang berada di Azerbaijan, diperintahkan menaklukan Tiflis, (sekarang : ibukota georgia), kemudian ke Armenia wilayah persia.
Desember 643 Di Persia : Ahnaf ibn Qais ditunjuk untuk menaklukan Khurasan. Dari Kufa, beliau bergerak melalui ke Rayy dan Nishapur. Nishapur menyerah tanpa perlawanan.
Desember 643 Di Mesir : Karena Khalifah Umar tidak menyetujui invasi lebih lanjut, maka Amr segera meninggalkan Tripoli dan Burqa dan kembali ke Fustat
Januari 644 Di Sindh : Gabungan pasukan Suhail, Usman ibn Abi Al Aas dan Hakam ibn Amr berhasil mengalahkan pasukan Raja Rasil dalam perang Rasil yang kemudian melarikan diri ke perbatasan timur sungai Indus. Disebelah timur sungai indus itulah terletak negeri Sindh. Tapi Umar bin Khatab menolak proposal Suhail untuk menginvasi Sind, dan mendeklarasikan bahwa Sungai Indus menjadi batas alam antara wilayah muslim dengan musuh didepannya.
Januari 644 Di Khurasan : Dari Nishapur, Ahnaf bergerak ke Herat (Sekarang Afganistan slatan). Kota Herat dikepung.
Januari 644 Di Armenia : Dari Bab, Bukair bin Abdullah ke utara. Ketika Bukair masih dalam perjalanan, Khalifah umar menginstruksikan untuk mem-bagi pasukannya ke dalam tiga bagian. Umar menunjuk Habib ibn Muslaima untuk menaklukan Tiflis, Abdulrehman bergerak keutara menaklukan pegunungan dan Hudheifa bergerak melalui selatan pegunungan.
Februari 644, Di Armenia : Habib menaklukan Tiflis dan wilayah wilayah pesisir timur Laut Mati. Abdulrahman bergerak keutara melalui pegunungan Kaukasus dan mengalahkan suku-suku lokal. Hudheifa bergerak ke baratdaya ke daerah pegunungan dan juga menaklukan suku-suku lokal.
Maret 644 Di Khurasan : Kota Herat menyerah setelah dikepung pasukan muslim pimpinan Ahnaf selama beberapa bulan. Dengan menyerahnya Herat, seluruh Khurasan selatan berada ditangan muslim.
April 644, Di Khurasan : Ahnaf bergerak keutara menuju Merv (sekarang Turkmenistan). Disini terletak istana Yazdeger III. Begitu mendengar pergerakan pasukan muslim, Yesdegerd III melarikan diri ke Balkh. Tidak ada perlawanan di Merv dan muslim menguasai Merv tanpa peperangan. Ahnaf tinggal di Merv menunggu balabantuan dari Kufa.
Mei 644, Kisra Yazdgird mengumpulkan kekuatan di Balkh dan mencari aliansi dengan Khan Farghana yang memimpin suku turki dan menolong Yasdegerd III. Oleh karena itu Umar memerintahkan untuk memecah persekutuan itu untuk memperlemah Yazdegerd. Ahnaf berhasil memecah persekutaan itu dan Khan Farghana menarik mundur pasukannya.
Juni 644 Tentara Yazdagird dikalahkan dalam perang sungai Oxus dan melarikan diri dengan menyebrangi sungai oxus ke Transoxiana. Setelah itu ia ke cina. Balkh di kuasai pasukan muslim. Dengan dikuasainya Balkh, maka perang dengan Persia berakhir. Seluruh daratan persia berada dalam kekuasaan muslim sampai batas terluar yang berbatasan dengan wilayah suku Turki. Dinasti Sasaniyah berakhir. Ahnaf kembali ke Merv dan mengirim laporan kepada khalifah Umar.
2 November 644 Umar Bin Khatab wafat karena dibunuh oleh Abu Lukluk. Ia mengangkat Dewan pemilih Khalifah
[1] 635 : Di Cina : Kristianitas "Nestorian" mencapai negeri Tiongkok dan bekas-bekas peninggalannya masih dapat disaksikan di kota-kota Tiongkok seperti Xi'an
Di China, I Cing dilahirkan (635-713).
[2] 26 Juni 635 Di Cina : Li Yuan, Mantan Kaisar Tang Gaozu (566-26 Juni 635) wafat. Ia adalah pendiri dan kaisar pertama Dinasti Tang yang memerintah sejak 618 hingga 626
[3] 638 Di Perancis : Raja Dagobert dari dinasti Merovingian menjadi raja yang pertama kali dimakamkan di Biara Saint-Denis, yang kemudian menjadi gereja kerajaan
[4] 639 Di Jawa : Hariwangsawarman (639-640) menjadi raja Tarumanegara menggantikan Sudhawarman (628-639)
[5] Di Jawa : Nagajayawarman(640-666) menjadi raja Tarumanegara menggantikan Hariwangsawarman (639-640)
[6] Di Bizantium : 11 Februari 641 Kaisar Heraklius wafat. Ia digantikan oleh Constantine III dan Heraklonas
26 Mei 641, Kaisar Contantine III wafat karena TBC. Tapi ada yang menyebutkan ia diracun Martina
[7] 641 Di Bizantium Kaisar Heraklonas diturunkan dari tahtanya oleh senat. Ia digantikan Constans II (641-668)

Jumat, 19 Februari 2010

KHULFAUR RASYIDIN : ABU BAKAR aSH SHIDIQ

ABU BAKAR AS-SHIDIQ (632 - 634 M)



Profil SingkatAbu Bakar As Shidik dilahirkan pada tahun 572 M atau 2 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Be-liau adalah pria dewasa yang pertama kali mengimani kenabian Nabi Mu-hammad serta risalah yang dibawanya. Dari dakwahnya banyak sahabat-sahabat yang masuk islam dan yang termasuk yang awal masuk Islam yaitu : Usman bin Af-fan, Zubair bin Awam, Talhah bin Ubaidillah, Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad bin Waqas, Umar bin Masoan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Abdul Asad, Abu Salma, Khalid bin Sa`id dan Abu Huzhaifah bin al-Mughirah. Beliau juga membeaskan 8 budak yang terdiri 4 laki-laki (Bilal bin Rabah, Abu Fakih, Ammar bin Yasir, Abu Fuhayra) dan 4 perempuan (Lubaynah, Al-Nahdiah, Umm Ubays, Haritsah binti al-Muammil) dari penyiksaan majikannya. Beliau adalah orang yang sangat mengimani apa saja yang disampaikan Nabi Muhammad, sehingga digelari As Shidiq. Beliaulah sahabat yang menemani Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, dan turut serta dalam peperangan yang dialami Nabi menghadapi kaum kafir Quraisy, seperti perang Badar, Uhud, Al Ahzab, Hunain dan sebagainya.
Menjadi KhalifahPada tanggal 8 Juni 632, Nabi Muhammad SAW wafat, yang merupakan kejadian yang tidak diduga sama sekali oleh kaum Muslimin, walaupun berita sakitnya telah mereka ketahui, namun tak terbayangkan oleh mereka bahwa suatu hari Rasullullah akan wafat. Maka ketika Kaum Muslimin mendengar berita wafatnya Rasulllullah ini, mereka menjadi heboh dan terpukul, bahkan sahabat sekaliber Umar bin Khatab menolak berita ini, dan mengancam akan memenggal siapa saja yang mengatakan Rasullullah wafat. Beliau berpen-dapat bahwa Rasullullah tidak wafat, tetapi hanya pergi sebentar menemui Khaliknya sebagaimana dilakukan Musa bin Imran, dan akan kembali lagi.
Akan halnya Abu bakar, begitu mendapat berita wafatnya Rasullullah, beliau mengucapkan hamdallah dan “Inna Lillahi wainna ilaihi Raji’un”, dengan bercucuran air mata. Dengan hati tabah Beliau langsung menuju rumah Rasul-llah. Belum sampai di rumah Rasulllullah ia melihat kaum muslimim telah kehi-langan kesadaran. Tapi ia tidak menghiraukannya. Ia masuk kerumah Rasul-lullah dan menjenguknya. Setelah meyakini Rasullullah wafat. Ia keluar dan ber-eru kepada kaum muslimin buat menennangkannya. Beliau berkata : “Wahai Kaum Muslimin. Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat, dan barangsiapa menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan takkan mati”. Kemudian beliau membacakan ayat “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran : 144)
Kaum muslimin segera tersadar dan seakan-akan baru mendengar ayat ini untuk pertama kalinya. Seruan Abu Bakar ini berhasil menyadarkan kaum musli-in dan merekapun bangkit menuju tubuh Rasullullah yang sedang disemayamkan dan menyampaikan salam perpisahan disertai tekad dan kemampuan yang kuat untuk menghadapi tantangan yang akan dihadapi.
Tak lama setelah itu, segolongan besar kaum Anshar berkumpul di Sa-qifah (balai pertemuan) Bani Saidah untuk berbaiat kepada Sa’ad bin Ubadah. Umar yang mendengar adanya pertemuan itu mengajak Abu Ubaidah bin Jarrah dan Abu Bakar untuk segera bergegas menuju pertemuan itu. Suasana pertemuan itu menjadi begitu tegang. Terjadi perdebatan untuk menentukan siapa yang akan menjadi Khalifah. Mula-mula kaum Anshar bersikeras bahwa kekhalifahan harus jatuh ketangan kaum Anshar. Dan Kaum Muhajirin dengan nada keras dan berang menolak keinginan kaum Anshar tersebut. Tapi untunglah Abu Bakar de-ngan bijaksana berhasil mendinginkan suasana tersebut dan menjelaskan tentang situasi orang-orang arab saat itu yang hanya mau dipimpin oleh kaum Quraisy, sehingga kekhalifahan seharusnya jatuh kedalam kaum Quraisy. Mendengar penjelasan Abu Bakar itu suasana mereda. Dengan cepat Umar membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah pertama Rasullullah mengingat Beliau adalah seorang dari dua orang yang disebutkan dalam Alquran sewaktu menemani Rasullullah berhijrah. Dan juga selama Rasulllullah sakit, Abu Bakar yang ditunjuk sebagai Imam Sholat. Pembaiatan ini disetujui oleh Kaum Anshar. Mereka pun berbon-dong-bondong membaiat Abu Bakar Sebagai Khalifah.
Esok Harinya, tanggal 09 Juni 632, pembaiatan Abu Bakar dilakukan secara umum di Mesjid. Para Sahabat menyatakan baiat secara umum setelah baiat di Saqifah. Kemudian Abu Bakar berdiri dan memuji Allah dan menya-takan syukumya. Kemudian dia berkata, "Amma Ba'du. Wahai manusia! Sesungguhnya saya telah dipilih untuk memimpin kalian dan bukanlah saya orang ter­baik di antara kalian. Maka, jika saya melakukan hal yang baik, ban-tulah saya. Dan jika saya melakukan tindakan yang menyeleweng luruskanlah saya. Sebab kebenaran itu adalah amanah. Sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat dalam pandangan saya hingga saya ambilkan hak-­haknya untuknya. Sedangkan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di hadapanku hingga saya ambil hak orang lain dari-nya, insya Allah. Dan tidak ada satu kaum pun yang meninggalkan jihad dijalan Allah kecuali akan Allah timpakan kepadanya kehinaan. Dan tidak pula menye-bar kemaksiatan kepada satu kaum kecuali akan Allah timpakan kepada mereka petaka. Taatlah kalian kepadaku selama saya taat kepada Allah dan jika saya melakukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku. Bangunlah untuk melakukan shalat. rahimakumullah. "
Sedangkan Ali bin Abi Thalib agak terlambat dalam pembaiatan Abu Bakar disebabkan sibuk mengurus jenazah Rasul SAW. Tidak ada keberatan dalam hati Ali untuk membai’at Abu Bakar Ash Shiddiq.
Setelah itu tugas pertama adalah menguburkan jenazah Rasullullah. Mula-mula sahabat bingung Rasullullah mau dimakamkan dimana. Ada yang berpen-dapat di Mekah, di kota tempat dia dilahir­kan. Sedangkan yang lain berkata: Hendaknya dia disemayamkan di masjidnya; Yang lain berkata, Dia hendaknya disemayamkan di Baqi'; yang lain berpendapat disemayamkan di Baitul Maqdis. Tapi untunglah Abu Bakar membacakan hadist Nabi, "Saya mendengar Rasulullah bersabda, Tidak ada seorang nabi pun yang meninggal kecuali dia harus disemayam­kan di tempat pembari-ngan di mana dia meninggal.". Oleh karena itu Rasulllullah dimakamkan ditempat tidurnya.
Abu Bakar kemudian memerintahkan untuk meneruskan pengiriman pasu-kan Usamah, meskipun para sahabat yang dipimpin oleh Umar bin Khatab berpendapat bahwa pengiriman pasukan Usamah ke Syria pada saat itu merupa-kan petualangan yang berbahaya mengingat kota Madinah sedang terancam oleh serangan orang-orang yang murtad begitu mendengar wafatnya Rasullullah. Menurut mereka, pasukan itu harus kembali ke Madinah untuk menghadapi serbuan yang tidak disangjka-sangka dari kaum murtad.
Akan tetapi Abu Bakar dengan keimanannya yang teguh tetap meme-rintahkan pengiriman pasukan Usamah sesuai perintah Rasulullah menjelang wafatnya. Bagi Abu Bakar, segala perintah Rasulllullah harus dilaksanakan, tak peduli bagaimanapun situasinya. Dihadapan kaum Anshar dan Muhajirin, Beliau berpidato, "Demi Allah, dimakan burung ganas lebih baik bagi saya daripada saya harus memulai sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.'
Ternyata keputusan Abu Bakar ini tepat. Begitu kabilah-kabilah diutara melihat betapa besarnya pasuksan yang dipimpin Usamah, maka mereka pun mengurungkan niatnya untuk menyerang kota Madinah. Mereka berpikir, bila kota Madinah sedang kacau dan lemah tentu tidak mungkin mampu mengirim pasukan untuk memerangi Bizantium.
Itulah karakter Abu bakar yang teguh memegang Syariat Allah dan Sunnah Rasulnya. Keteguhannya ini diuji lagi ketika putri Rasullullah, Fathi-mah, bersama Abbas, paman Rasullullah, menuntut hak terhadap sebidang tanah di Fadak yang sebelumnya merupakan milik Rasullullah yang diperoleh dari Ghanimah, yang selama ini Rasullullah memberikan sebahagian hasilnya kepada Fathimah dan beberapa orang keluarganya, dan sisanya dibagi-bagikan kepada para sahabatnya yang miskin. Abu Bakar menolak memberikannya karena Ra-sullullah pernah bersabda : "Sesungguhnya kami para nabi tidak mewariskan (harta), dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” Dalam hal ini Abu Ba-kar menghadapi dilema yaitu : Kesetiaannya pada Rasullullah mengenai putrinya dan kepada Syariat yang dibawa oleh Rasulllullah.
Sementara itu didaerah-daerah sekitar Madinah, muncul kaum pembang-kang yang menolak membayar zakat. Abu Bakar menilai penolakan itu sebagai pembrontakan dan hendak menguji ketahanan islam pasca wafatnya Rasullullah. Oleh karena itu Abu Bakar segera memerangi mereka meskipun Umar bin Kha-tab berpendapat agar tidak memerangi mereka karena statusnya masih Islam karena masih menyatakan Syahadat, dan juga jumlah pasukan di Madinah tidak memadai mengingat sebagian besar diberangkatkan bersama Usamah ke perba-tasan Syria. Tapi dengan keimanan yang teguh Abu Bakar tidak membiarkan perubahan/pelanggaran atas syariat Allah dan Sunnah Rasulnya. Maka Abu Ba-kar dengan tegas menindak para pembangkang zakat itu, karena bila hal ini dibiarkan tentu pembangkangan ini akan meningkat menjadi pendurhakaan bersenjata yang akan menyerbu Madinah.
Sedangkan dikota-kota yang jauh dari Madinah dimana sebagian besar penduduknya baru masuk islam, tidak dapat menerima kenyataan bahwa Rasul-lullah akan mengalami kematian seperti manusia biasa. Maka mereka menjadi mangsa empuk nabi-nabi palsu yang bermunculan serperti Tulaihah, Musai-lamah, Sajjah dan lain sebagainya. Terhadap para Nabi Palsu ini, Abu bakar mengirim 11 brigade pasukan untuk menumpas kaum murtad tersebut. Pepe-rangan melawan kaum murtad itu dikenal dengan Perang Riddah. Kesebelas Brigade tersebut adalah sebagai berikut :
· Khalid bin Walid : Mula-mula menghadapi Tulaiha di Buzakha, kemu-dian menghadapi Malik bin Nuwaira, di Butah.
· Ikrimah bin Abi-Jahl : Menghadapi Musailima di Yamamah.
· Amr bin al-As: Menghadapi kaum murtad dari suku Quza'a dan Wadi'a di area Tabuk dan Daumat-ul-Jandal.
· Shurahbil bin Hasanah: Bergabung dengan Ikrimah dan menunggu instruksi Khalifah.
· Khalid bin Said: Menghadapi kaum murtad di diperbatasan Syria.
· Turaifa bin Hajiz: Menghadapi kaum murtad dari suku Hawazin dan Bani Sulaim di area timur Madinah dan Makkah.
· Ala bin Al Hadhrami: Menghadapi kaum murtad di Bahrain.
· Hudhaifa bin Mihsan: Menghadapi kaum murtad di Oman.
· Arfaja bin Harsama: Menghadapi kaum murtad di Mahra.
· Muhajir bin Abi Umayyah: Menghadapi kaum murtad di Yaman kemu-dian kaum Kinda di Hadhramaut.
· Suwaid bin Muqaran: Menghadapi kaum murtad di pesisir utara Yaman.

Setelah Perang Riddah selesai, Abu Bakar melakukan pembebasan terhadap Irak yang dikuasai Dinasti Sasaniyah dari Persia dan Syam yang dikuasai Bizantium. Irak Selatan berhasil dikuasai. Ketika pasukannya sedang berperang melawan pasukan Bizantium di Damaskus, Abu Bakar wafat. Sebelum wafatnya, setelah berkonsultasi dengan para sahabat, Abu Bakar mewasiatkan Kekhalifahan kepada Umar bin Khatab.

Peristiwa yang Terjadi di Masa Kekhalifahannya9 Juni 632[1]/13 Rabiul Awal 11 H : Abu Bakar menjadi Khalifah
26 Juni 632/2 Rabiul Akhir 11 H, Pasukan Usammah mulai bergerak keluar Madinah melanjutkan ekspedisi keperbatasan Bizantium.
10 Juli 632/16 Rabiul Akhir 11 H, Pada saat pasukan utama yang dipimpin Usammah tidak berada di Madinah, Para pembangkang zakat mengepung kota Madinah. Khalifah Abu Bakar berhasil mengusir para penyerbu, meskipun jumlah pasukannya sedikit dibandingkan kauym penyerbu.
21 Juli 632, Tulaihah, yang memproklamirkan dirinya sebagai nabi di Zhu Qissa, memindahkan pasukannya ke Zhu Hussa, dan dari sinilah mereka menyerang Madinah. Tapi sebelum mereka berbuat sesuatu, dengan sigapnya, Abu Bakar dengan sisa pasukan yang ada dimadinah, terutama berasal dari Bani Hasyim, yang didalamnya terdapat Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidullah dan Zubair bin Awwam, berhasil mengalahkan mereka, sehingga mereka melari-kan diri ke Zhu Hussa. Saat itu jumlah pasukan Abu Bakar sangat kecil bila dibandingkan kaum penyerbu.
01 Agustus 632, Abu Bakar memimpin pasukan ke Zhu qissa dan mengalahkan kaum pemberontak dan menaklukan Zhu Qissa. Pasukan pem-bangkang yang kalah melarikan diri ke Abraq. Abu Bakr menempatkan detase-men pasukan dibawah pimpinan An-Numan ibn Muqarrin di Zhu Qissa dan beliau kembali ke Madinah dengan pasukan utamanya.
4 Agustus 632, Pasukan Usammah kembali ke Madinah dengan membawa banyak rampasan perang. Abu bakar memerintahkannya untuk tetap di Madinah.
14 Agustus 632, Abu Bakar kembali ke Zhu qissa, mengambil alih deta-semen ynag dipimpin Numan bin Muqqarrin, dan kemudian bergerak ke Abraq. Disini ia mengalahkan pasukan pemberontak. Sisa pasukan pemberontak mun-dur ke Buzakha.
28 Agustus 632, Abu Bakar bergerak ke Zhu Qissa lagi dengan seluruh pasukannya. Ketika Abu Bakar telah siap berangkat, Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Bakar, “Wahai Khalifah Rasulullah, kuingatkan kepadamu apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW pada perang Uhud: ‘Sarungkan pedangmu dan senangkanlah kami dengan dirimu. Demi Allah, jika kaum Musli-min mengalami musibah karena kematianmu niscaya mereka tidak akan memi-liki eksistensi sepeninggalmu.” Kemudian Abu Bakar kembali dan menyerahkan panji tersebut kepada yang lain. Oleh karena itu ia membentuk 11 brigade yang disebar ke seluruh semenanjung arab guna menumpas kaum murtad yang tersebar.
15 September 632, Pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid berhasil mengalahkan Nabi Palsu Tulaiha di Buzakha. Sisa pasukan kaum murtad melari-kan diri ke Ghamra, berjarak 20 mil dari Buzakha. Tulaihah sendiri pergi ke Syria. Kelak ketika syria ditaklukan oleh umat islam, Tulaihah kembali kepang-kuan islam dan ikut serta dalam perang Qadisiyah dan Nihawand pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Ditanggal yang sama, Abu Bakr mengirim Brigade Huzaifah bin Mihsan ke Oman untuk mengatasi kaum murtad di Oman, dimana suku Azd, yang mendominasi wilayah tersebut memberontak dibawah pimpinan Laqit bin Malik, yang lebih dikenal sebagai Zul Taj.
21 September 632, Pasukan Khalid bin Walid mengalahkan kaum murtad di Ghamra, berjarak 20 mil dari Buzakha. Hal ini menyebabkan beberapa suku menyatakan tunduk kepada kekuasaan Khalifah di Madinah.
Oktober 632, Dengan kekuatan 6000 orang, Khalid bin Walid mengalah-kan kaum pemberontak dari Bani Salim di Naqra
Oktober 632, Brigade Amr bin Ash dikirim ke perbatasan Syria untuk mengatasi kaum murtad disana, dimana suku yang berpengaruh adalah suku Quza'a dan Wadi'a (bagian dari Bani Kalb), disekitar Tabuk dan Daumat-ul-Jan-dal. Tetapi Amr tidak dapat menundukan kaum tersebut sampai kelak Shurabil bergabung dengannya pada bulan Januari 633 setelah Perang Yamamah.
21 Oktober 632, Pasukan Khalid bin Walid mengalahkan kepala suku wanita, Salma (Umm Zummal) di Zafar. Umm Zummal sendiri terbunuh dalam medan pertempuran. Setelah itu pasukan Khalid bergerak ke Bataha (Markars besar bani Tamim) di Nejed untuk memerangi kaum Murtad dari Bani Tamim yang dipimpin Malik bin Nuwairah. Sesampainya di Butaha, Khalid tidak mene-mui perlawanan. Oleh karena itu ia memerintahkan pasukan kavalerinya untuk menyuarakan azan, Zirrar bin Azwar, pemimpin pasukan yang menginspeksi kelu-arga Malik melaporkan bahwa mereka tidak menjawab panggilan azan. Oleh karena itu Khalid menyatakan Malik masih murtad dan memerintahkan un-tuk mengeksekusinya. Terlebih lagi Malik telah mengkhinati negara Madinah. Dihari yang sama Khalid menikahi janda Malik, Layla binti Al Minhal yang disebut-sebut sebagai wanita tercantik di Arab saat itu. Pernikahan ini menim-bulkan kontorversi, dan timbul isu bahwa Khalid membunuh Malik untuk meni-kahi Layla. Oleh karena itu, Khalid dipanggil oleh Khalifah ke Madinah untuk menjelaskan hal itu.
30 Oktober 632, Mendengar kemenangan gemilang Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal menjadi tidak sabar dan menyerang pasukan Musailamah. Padahal beberapa hari lagi pasukan bantuan dari Shurabil akan tiba. Malangnya, pasukannya dikalahkan oleh pasukan Musailamah Al Kadzab. Ikrimah mela-porkan kejadian ini kepada Abu Bakar. Abu Bakar sedih dan marah atas ketidak-patuhan Ikrimah. Oleh karena itu Ikrimah ditugaskan ke Oman untuk membantu Huzaifah. Setelah itu ke Mahra untuk membantu Arfaja dan setelah itu ke Yaman untuk membantu Muhajir.
November 632, Abu Bakar mengirim perintah kepada Khalid bin Walid agar bergerak melawan Musailamah. Brigade Surahbil yang masih disana diper-bantukan kepada Khalid. Pasukan Khalid juga ditambah lagi oleh Khalifah Abu bakar dengan kaum Anshar dan Muhajirin dari Madinah yang kemudian berga-bung dengan Khalid di Butah. Dari Butah Khalid bergerak ke Yamamah untuk bergabung dengan pasukan Surahbil. Sebelumnya Abu Bakar memerintahkan kepada Surahbil agar menghindari kontak dengan pasukan Musailamah. Namun menjelang kedatangan pasukan Khalid, Surahbil malah menyerang pasukan Musailamah, dan ternyata dikalahkan juga.
30 November 632, Ikrimah tiba di Oman setelah bergerak dari Yamamah dan bergabung dengan Huzhaifah. Pasukan gabungan tersebut mengalahkan Dhul Taj dalam perang Daba. Dhul Taj terbunuh dalam pertempuran ini.
Desember 632 / Ramadhan 11 H, Putri Rasulullah, Fathimah, wafat.
1 Desember 632, Pasukan Khalid bergabung dengan pasukan Surahbil di Yamamah.
21 Desember 632, Terjadi Pertempuran Yamamah di dataran Aqraba, daerah Yamama antara pasukan Khalid bin Walid dan Pasukan Musailamah Al Kadzab, sang nabi palsu. Pasukan Khalid bin Walid berhasil memenangkan peperangan. Dalam peperangan ini sebanyak 70 penghapal qur’an telah gugur syahid. Oleh karena itu, di Madinah, Umar bin Khattab ra merasa khawatir jika para shahabat penghafal Al-Quran yang masih hidup itu syahid dalam peperangan-peperangan yang selanjutnya, yang dapat membawa dampak buruk terhadap penjagaan Al-Quran. Beliau mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan shuhuf-shuhuf yang berisikan ayat-ayat Alqur’an. Mulanya sang Khalifah berkeberatan karena perbuatan seperti itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah, namun Umar bin Khatab berhasil meyakinkannya, sehingga beliaupun menyetujuinya. Khalifah Abu bakar kemudian menugaskan Zaid bin Tsabit untuk melaksanakan pengumpulan Shuhuf-shuhuf Alquran. Ke-mudian, Zaid mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran itu dari daun, pelepah kurma, batu tanah keras, tulang dan kulit unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Quran. Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al Quran itu, Zaid bin Tsabit bekerja amat teliti. Sekalipun beliau adalah hafal Al-Quran seluruh-nya langsung dari Rasulullah SAW, tetapi untuk kepentingan pengumpulan Al-Quran yang sangat penting bagi umat Islam itu, beliau masih memandang perlunya mengcrosscek dengan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Akhirnya, ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan itu seluruhnya ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran, dan diikatkannya dengan baik dan benar, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Kemudian Al-Quran tersebut diserahkan kepada Abu Bakar ra. Mushaf ini tetap berada di tangan Abu Bakar ra sampai beliau meninggal dunia. Kelak mushaf ini disimpan oleh Umar Al-Khattab selama masa kekhalifahannya. Sesudah Umar binl Khattab ra wafat, mushaf tersebut disimpan oleh Hafsah, anak perempuan Umar dan isteri Rasulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al-Quran di masa Khalifah Usman bin Affan r.a.
Januari 633, Abu Bakar mengirim brigade Ula bin Al Hadhrami menumpas pemberontak di Bahrain. Ula tiba di Bahrain dan menjumpai kaum murtad bertahan di benteng Hajr. Ula melakukan serangan mendadak pada malam hari dan menguasai kota. Kaum pemberontak melarikan diri ke daerah pesisir dimana mereka membuat pertahanan kuat, tetapi sekali lagi dikalahkan. Sebagian besar menyerah dan masuk islam kembali. Operasi ini diselesaikan di akhir Januari 633.
Januari 633, Ziyad bin Lubaid, gubernur Muslim di Hadramaut melancarkan operasi penumpasan dan menyerang Riyaz setelah seluruh suku Kinda memberontak dibawah pimpinan Ash'as bin Qais dan bersiap untuk berperang. Akan tetapi kekuatan pasukan Muslim dan kaum murtad seimbang, sehingga Ziyad menunggu bala bantuan sebelum menyerang pemberontak. Bala bantuan sedang dalam perjalanan yang dipimpin oleh Muhajir bin Abi Umayyah yang merupakan brigade terakhir yang dikirim Khalifah Abu Bakar yang sebelumnya telah menumpas beberapa kaum pemberontak di Najran. Selain balabantuan dari Muhajir, Khalifah Abu Bakar juga mengirimkan Ikramah yang saat itu berada di Abyan untuk bergabung dengan pasukan Ziyad dan Muhajir
30 Januari 633, Pasukan gabungan Muhajir dan Ziyad berhasil menak-lukan Zafar, ibukota Hadhramaut, dan mengalahkan Ash'as, yang kemudian melarikan diri ke kota Nujair. Beberapa saat setelah perang mereda, Brigade Ikrimah tiba di Hadramaut dan langsung bergabung dengan brigade Muhajir dan Ziyad. Mereka kemudian bergerak menuju kota Nujair.
Awal Februari 633, Mutsana bin Haritsah mengunjungi Khalifah Abu Bakar di Madinah. Ia melaporkan kepada Khalifah bahwa penduduk didaerah perbatasan di Iraq adalah bangsa Arab yang secara legitimasi masuk kedalam Jazirah Arabia, dan oleh karena itu kaum Muslim harus membebaskan daerah itu dari jajahan bangsa Persia.
14 Februari 633, Kota Nujair berhasil ditaklukan oleh pasukan gabungan Muhajir, Ziyad dan Ikrimah yang berada dibawah komando Muhajir.
18 Maret 633, Dengan kalahnya suku Kinda di Nujair, maka pembero-ntakan kaum murtadpun berakhir. Semenanjung Arabia menjadi stabil dan berada dalam wilayah kesatuan Kedaulatan Islam yang dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar yang berpusat di Madinah. Setelah perang Ridda selesai, Mutsana bin Haritsah menyerang kota-kota Persia di Irak. Ekspedisi ini berhasil dengan sejumlah rampasan perang yang dibawa. Mutsana bin Haritsah kemudian mengunjungi Madinah dan melaporkan kepada Khalifah tentang keberhasi-lannya ini dan Abu Bakar mengangkatnya sebagai pemimpin rakyatnya setelah ia berpetualang begitu ke pedalaman Irak. Dengan keunggulan kecepatan pasu-kan kavalerinya, ia dapat dengan mudah menyerang kota-kota didekat gurun untuk kemudian menghilang ke gurun yang membuat pasukan Sasaniyah tidak dapat mengejarnya. Aksi Mutsanah bin Haritsah ini membuat Abu bakar memu-tuskan untuk menginvasi Iraq.
21 Maret 633, Khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid ke Irak, menyerang Sasaniyah. Saat itu Khalid berada di Yamamah
April 633, Khalid bin walid mengalahkan Hormuz dalam duel satu lawan satu di Kazima. Setelah Hormuz terbunuh, Khalid memerintahkan pasukannya menyerang pasukan persia. Karena pangglimanya telah tewas, maka pasukan persia mengalami demoralisasi sehingga mudah dikalahkan. Perang ini disebut juga perang Berantai atau Salasil (pasukan persia dihubungkan dengan rantai).
21 April 633, Dalam Perang Sungai, Pasukan Khalid mengalahkan pasukan Persia yang dipimpin Karinz ibn Karianz, Qubaz, Anushjan di Mazar.
Mei 633, Terjadi Pertempuran Walaja, antara pasukan Khalid bin Walid dan pasukan persia yang dipimpin Andarzaghar di irak dengan kemenangan pasukan Khalid padahal pasukan khalid 15000 orang sementara pasukan persia 25000-30000 orang.
Mei 633, Terjadi Pertempuran Ulais, antara pasukan Khalid bin Walid dan pasukan persia yang dipimpin Jaban, Abdul-Aswad, Abjar di irak dengan keme-nangan pasukan Khalid padahal pasukan khalid 15000 orang sementara pasukan persia 70000 orang.
28 Mei 633, Terjadi Pertempuran Hira, antara pasukan Khalid bin Walid dan pasukan Persia dan Lakhsmid yang dipimpin Iyas dan Abd al-Masih di kota Hirah, Irak dengan kemenangan pasukan Khalid.
Juni 633, Terjadi Pertempuran Al Anbar, antara pasukan Khalid bin Walid dan pasukan persia yang dipimpin Shirazad di kota Anbar, 80 km dari kota kuno Babylonia dengan kemenangan pasukan Khalid.
Minggu keempat bulan Juli 633, Terjadi Pertempuran ein-ul-tamr, antara pasukan Khalid bin Walid dan pasukan persia yang bergabung dengan pasukan arab kristen dipimpin Aqqa ibn Qays ibn Bashir di kota ein-ul-tamr, sebelah ba-rat kota Anbar dengan kemenangan pasukan Khalid. Kota tersebut ditaklukan oleh Khalid bin Walid
Minggu keempat bulan Agustus 633, Terjadi Pertempuran Daumat-ul-jandal antara pasukan Khalid bin Walid dan pasukan pemberontak arab yang dipimpin Judi ibn Rabi'a,Ukaidar ibn Abdulmalik al-Kindi di kota Daumat-ul-jandal, Arab, dengan kemenangan pasukan Khalid. Kekuatan Khalid 10000 orang, sementara musuhnya 12000-15000 orang
28 September 633, Khalid kembali ke Hira dari Daumat ul Jandal. Ia mempersiapkan penyerangan ke Muzayah.
November 633, Khalid bin walid mengalahkan pasukan gabungan persia dan Arab kristen yang dipimpin Bahman, Mahbuzan, dan Huzail ibn Imran di Muzayah.
14 November 633, Khalid bin Walid mengalahkan pasukan Arab kristen yang dipimpin Rabi'a bin Bujair di Sanniy
15 November 633, Khalid bin walid mengalahkan pasukan Arab kristen yang dipimpin Rabi'a bin Bujair di zumail. Dari Zumeil, pasukan Khalid berge-rak ke Ruzeb. Ruzeb diduduki tanpa perlawanan, Karena Hilal dan pasukannya telah melarikan diri sebelum pasukan muslim tiba. Kemenangna Khalid ini mengakhiri pengaruh Persia di Irak, yang kemudian jatuh kedalam wilayah kedaulatan islam
7 Desember 633, Khalid bergerak ke Firaz yang terletak diantara wilayah Bizantium dan Persia. Oleh karena itu Pasukan Bizantium memutuskan membantu Persia
Januari 634, Terjadi Pertempuran Firaz. antara pasukan Khalid bin Walid dan pasukan Persia, Byzantium dan arab kristen yang dipimpin Heraclius, dan Yazdgerd III di kota Firaz, Mesopotamia dengan kemenangan pasukan Khalid. Kekuatan Khalid 15000 orang, sementara musuhnya tidak diketahui, tapi sangat besar. Kemenangan ini mengakhiri petualangan Khalid di Mesopotamia. Setelah kemenganan ini, secara diam-diam, Khalid menunaikan ibadah Haji ke Mekah. Sekembalinya dari ibadah Haji, ia mendapat surat dari Abui Bakar agar tidak bertualang lagi ke Mesopotamia.
Januari 634, Khalid bin Said meminta ijin kepada Khalifah Abu Bakar untuk memberangkatkan pasukannya ke Syam. Sang Khalifah mengijinkannya, tetapi hanya sebatas untuk operasi pengintaian dan menghindari pertempuran dengan Byzantium.
23 Februari 634, Sekembalinya dari ibadah Haji, Abu Bakar memobilisasi pasukannya untuk berjihad ke Syam. Banyak kaum muslimin dari jazirah Arabia datang ke Madinah untuk bergabung dalam kontingen jihad ke Syam (Syria).
Maret 634, Sejumlah besar pasukan sudah berkumpul di Madinah, bersiap-siap bergerak ke Syria. Abu Bakr mengorganisasikan pasukan tersebut dalam 4 Brigade yang masing-masing terdiri 7000 jiwa. Brigade pertama diba-wah komando Amr bin Ash, bertugas bergerak ke Palestina melalui Eila dan lembah Araba. Brigade kedua dibawah komando Yazid bin Abu Sofyan, bertu-gas langsung bergerak ke Damaskus melalui Tabuk. Brigade ketiga dibawah Shurahbil bin Hasana bertugas bergerak ke Jordan. Brigade ke empat dibawah pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah diminta bergerak ke Emessa. Semua brigade bertindak independen, dan jika pasukan bergabung, Abu Ubaidah bertindak sebagai Pangglima Komando tertinggi.
7 April 634, Pasukan Muslim bergerak dari Madinah. Mula-mula Brigade Yazid bin Abu Sofyan, kemudian diikuti brigade lainnya. Pasukan Yazid berge-rak sesuai target, menyebrangi Tabuk, dan terjadi kontak senjata dengan pasukan Kristen arab yang kemudian mundur sehingga Yazid berhasil menguasai lembah Araba yang dibatasi dengan Laut Mati bagian selatan. Disaat yang sama brigade Amr bin Ass mencapai Elat dan berhadapan dengan dua detasemen pasukan Bizantium dan berhasil dikalahkan.
Awal Mei 634, Brigade Abu Ubaidah dan Surabil mencapai daerah antara Busra dan Jabiya. Kaisar Heraklius yang menerima laporan intelijen tentang pergerakan pasukan muslim dari sekutu arabnya merencanakan tindakan bala-san. Atas pernitah Heraklius, pasukan Bizantium dari beberapa garnisun diutara mulai bergerak unutk berkumpul di Ajnadain dimana mereka dapat menyerang brigade Amr bin ass dan mendesak serta mengepung bagian belakang sisa pasu-kan muslim yang berada di Jordan dan Syria selatan. Kekuatan pasukan bizan-tium mencapai 100 ribu orang, Abu Ubaidah menginformasikan kepada khalifah Abu bakar atas perkembangan (persiapan pasukan bizanitum) ini pada minggu ketiga bulan mei dan karena minimnya pengalaman Abu Ubaidah dalam militer maka Abu Bakar memutuskan mengirim Khalid bin Walid.
Mei 634, Di Hirah, Khalid bin Walid menerimah surat perintah dari Khalifah agar segera bergerak ke Syria untuk memimpin operasi pembebasan di sana. Oleh Karena itu Komando di Irak diserahkan kepada Mutsana bin Harit-sah. Begitu mendapat perintah ini pasukan di Hirah dibagi menjadi dua, satu ia tinggalkan untuk Mutsanah di Irak dan satunya lagi ikut serta ke Syria.
Awal Juni 634, Khalid bergerak dari hirah dengan 9000 pasukan. Dari Hirah mereka menuju 'Ein at Tamr, Sandauda, Mazayyah dan Qaraqir. Di Qaraqir, pasukan mengisi kantong air minum dan tempat lain dengan air untuk persediaan 5 hari
6 Juni 634, Setelah perjalanan berat selama lima hari, pasukan Khalid mencapai Shuwa, daerah Syria. Disini pasukan musluim menangkap sekumpu-lan Domba dan lembu untuk persiapan perang
6 Juni 634, Pasukan Khalid mencapai Arak yang berbenteng. Penduduk-nya bersedia membayar Jizyah
7 Juni 634, Dari Arak Pasukan Khalid menuju ke Tadmur, dimana pasukan Arab Kristen bersiaga di benteng. Pasukan Muslim mengepung benteng dan akhirnya pasukan Arab Kristen menyerah dan setuju membayar Jizyah.
8 Juni 634, Dari Tadmur, pasukan Khalid bergerak menuju Qaryatein. Garnisun Bizantium yang ada disini memutuskan untuk bertahan. Dalam per-tempuran, garnisun itu dihancurkan, dan tinggal 1 orang. Penduduk disana me-nyerah dan setuju membayar Jizyah. Setelah itu paukan muslim bergerak ke Huwareen berjaraj 10 mil dari Qaryatein. Disini pasukan Muslim berhadapan dengan penduduk lokal yang dibantu oleh pasukan dari Bani Ghassan. Pasukan Bizantium dan Bani Ghasan terpecah belah, sehingga perjanjian perdamaian di tandatangani dan penduduk lokal bersedia membayar Jizyah. Dari sini mereka menuju Damaskus.
11 Juni 634, Pasukan Khalid berhenti di suatu tempat 20 mil dari Damaskus. Mereka berada di Terusan Jabal-us-Sharq,
12 Juni 634, Dari terusan Jabal us Sharq pasukan Khalid maju ke Marj Rahit. Tentara yang berada di sini segera disergap. Akhirnya tentara tersebut menyerah dan padukan muslim mendapat ghanimah. Dari sini pasukan Muslim dibawah pimpinan Khalid bergerak ke Busra, begitu mendapat kabar tentang pertempuran Busra antara Pasukan Muslkim dan Bizantium.
13 Juni 634, Melalui Damaskus Khalid bergerak ke Busra, Beliau mengi-rim surat kepada Abu Ubaidah, bahwa ia akan menemuinya di Busra.
14 Juni 634, Pasukan Khalid sampai di Busra. Ternyata di Busra, pasukan Muslim kalah dalam jumlah dibandingkan dengan pasukan Bizantium. Mengam-bil keuntungan dari besarnya jumlah pasukan, Pihak bizantium meluncurkan serangan besar-besaran sehingga pasukan Muslim mulai terdesak. Posisi pasu-kan muslim menjadi kritis dan Shurabil berdoa kepada Allah untuk minta perto-longan. Secara menakjubkan, pasukan Khalid datang, sehingga mengembalikan semangat juang. Begitu melihat pasukan muslim mendapatkan bala bantuan, Pihak Bizantium mundur ke dalam kota dan menyerang dengan panah dari dalam benteng.
14 Juli 634, Terjadi Penaklukan kota Busrah, yang merupakan penaklukan kota penting pertama di Suriah oleh kaum muslimin. Tentara Islam hanya kehi-langan 130 jiwa sedangkan pasukan Romawi harus merelakan beberapa ribu nyawa pasukannya. Khalid mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar tentang keberhasilan merebut kota ini dan juga mengirim seperlima dari rampasan perang. Penaklukan kota Busrah ini membuka jalan kepada pasukan Islam untuk menaklukkan seluruh Suriah.
15 Juli 634 Pasukan Muslim mendapat kabar berkumpulnya Pasukan Romawi di Ajnadain yang mencapai 90 ribu orang.
21 Juli 634, Seluruh Pasukan Muslim bergerak dari Busra menuju Ajnadain, mengikuti saran dari Khalid bin Walid untuk menghadapi pasukan Bizantium
24 Juli 634, Pasukan Khalid bin Walid bergabung dengan seluruh divisi pasukan Muslim di Ajnadain sehingga total pasukan muslim mencapai 32000 orang.
30 Juli 634 Terjadi pertempuran Ajnadain antara pasukan Byzantium dengan pasukan Khalid bin Walid di Suriah, dengan kemenangan pasukan Khalid.
8 Agustus 634, Khalifah Abu bakar jatuh sakit.
15 Agustus 634, Khalid bin Walid bergerak ke Damaskus, dan dalam perjalanannya ia mengalahkan pasukan romawi lainnya dalam pertempuran Yakosa
19 Agustus 634, Tomur, menantu Kaisar Heraclius, mengirim pasukan lainnya untuk menghentikan pergerakan Khalid, tapi dikalahkan juga dalam pertempuran Maraj-al-Safar
21 Agustus 634, Pasukan Khalid bin Walid mencapai Kota Damaskus dan mulai mengepung kota tersebut. Pengepungan ini berlangsung selama 30 hari, setelah mengalahkan bala bantuan pasukan romawi pada pertempuran Sanita-al-Uqab 20 mil dari Damascus
23 Agustus 634, Khalifah Abu Bakar wafat. Sebelum wafatnya beliau mewasiatkan agar kekhalifahan selanjutnya diamanahkan kepada Umar bin Khatab.
[1] Ketika itu, Wilayah Persia dikuasai oleh Dinasti Sasaniyah yang dipimpin oleh Yazdagird III
Bizantium dipimpin oleh Kaisar Heraklius yang wilayah kekuasaannya meliputi Afrika Utara, Anatolia, Eropa Timur
Sedangkan di Cina berkuasa Dinasti Tang (618-907) yang baru berdiri dibawah Kaisar Tang Tai Zong (626-649M)
Di Spanyol dikuasai bangsa Gothic yang dipimpin Ludila (632-633) yang memberontak terhadap Kaisar Sisenand (631636)